Siang
sabtu selepas kuliah saya langsung pulang menuju kos di dasan agung, hari itu
menjadi hari yang tidak biasa karena biasanya selepas kuliah saya menyempatkan
diri untuk mengobrol dan bercanda dengan teman teman kampus barang lima sampai
sepuluh menit sebelum akhirnya kami pulang bersama-sama. Sampai di kos saya
langsung rebahkan badan diatas kasur kusut dibalut kain warna putih bercorak
bunga mawar.
Siang
itu kakak misan saya yang menjadi teman kos tidak ada disana karena mungkin
sedang berada dikos temannya, maklum saja dia sudah semester akhir dan sedang
menyusun skripsi sehingga minggu-minggu ini dia jarang kelihatan di kos
sehingga saya sering tidur sendirian di kamar kos yang berukuran 4X5 itu.
Belum
lama badan saya berbaring melepas lelah, tiba tiba handphone saya berdering tanda panggilan
masuk, segera saya raih tas yang dari awal masuk kos saya taruh diatas lemari
mebel berwarna cokelat karena hape saya taruh di tas dan belum sempat
mengeluarkannya. Saya perhatikan layar hape dengan cermat ternyata yang
menghubungi nomor baru, dalam benak saya bergumam “ siapa gerangan orang yang
memanggil ini” tanpa berpikir panjang saya tekan tombol warna hijau tanda
menerima obrolan siang itu.
“Assalamualakum
warahmatullahiwabarkatuh” dia mengucap salam dengan nada khasnya, tanpa
bertanya saya sudah bisa menebak siapa gerangan orang ini, ya dia adalah salah
satu guru inspirator dan mentor yang semenjak duduk dibangku Aliyah, saya
banyak belajar darinya, belum sempat saya balas salamnya dia sudah kembali
menyapa “ Hai Boy..! Apa Kabar” saya semakin yakin dengan tebakan saya,
karena hanya beliau yang selama ini memanggil saya Boy.
Ya dia
adalah Mr. Samsul Hakim, guru qur’an hadist yang kesehariannya hobi berkebun,
menembak dan mancing tanpa umpan, jika beliau tidak ada jam mengajar
dipesantren, beliau akan lebih memilih menghabiskan waktunya dikebun bercocok
tanam lalu malamnya menyusuri sungai dan perkebunan masyarakat dengan senapan
angin dipundaknya guna berburu.
“Waalaikumsalam
Wr. Wb, Alhamdulillah baik ust” jawab saya singkat, lalu beliau melanjutkan
maksud dan tujuannya menelpon saya, “ Begini Boy, di Darul Hikmah kita
sedang ada program English camp yang diikuti oleh anak kelas Lima, mereka ini
santri kelas lima yang tidak bisa ikut pergi ke pare bersama teman temanya
untuk kursus bahasa inggris karena beberapa alasan, nah agar mereka memiliki
kesetaraan skill dalam bahasa inggris dengan teman temannya yang pergi kepare,
saya mengusulkan agar mereka difokuskan belajar bahasa inggrisnya di darul
hikmah.” Siang menjelang sore itu tiba tiba beliau menjadi sangat vokal
persis seperti dosen yang sedang menjelaskan materi kuliah marketing, karena
setahu saya beliau adalah guru yang jarang sekali ngomong apabila itu tidak
penting, lebih lebih melalui handphone. Saya terus tetap menyimak penjelasannya
hingga ia benar benar selesai bahkan saya tidak diberikan kesempatan untuk
berkomentar.
Karena
mungkin beliau merasa penjelasannya cukup, lalu beliau menyuruh saya agar
sesekali main main ketempat kursus dan jika dirasa nyaman bisa langsung ikut
nimbrung di sana biar kuliah lewat sini saja. Waktu itu saya tidak langsung
mengiyakan karena harus memintak izin terlebih dahulu ke kakak misan teman kos
saya, karena bagaimanapun juga dia adalah orang tua saya di kos itu. Suara speaker
masjid perlahan mulai terdengar pertanda waktu ashar segera tiba, kamipun
menyelesaikan obrolan itu sambil mengucap “insyallah kapan kapan saya main
ke sana tad,” lalu mengucap salam untuknya.
sehari
setelah percakapan saya dengan Mr. Samuel (panggilan Populernya di pesantren
Nurul Haramain) saya cerita sekaligus mintak pendapat sama kakak saya tentang
obrolan tempo hari perihal kursus dan bila merasa nyaman saya akan menetap tinggal
disana sampai programnya selesai. Tanpa terlihat ragu di wajahnya dia sangat
mendukung dan mengapresiasi apapun rencana saya.
***
Hari senin
minggu itu, kuliah saya kosong, bukan karena senin tidak ada jadwal, hanya saja
dosen yang mengajar hari senin minggu itu sedang keluar kota untuk kepentingan
kampus. Memanfaatkan hari libur itu, sayapun siap-siap menuju tempat
kursusannya Mr. Samuel.
Pagi
senin itu menjadi langkah pertama saya menginjakkan kaki ditempat yang nanti
orang orang menyebutnya kampung naga. Sepanjang perjalanan, dalam bayangan saya
tempat itu mewah dengan fasilitas lengkap, memiliki gerbang dengan tembok
penyekat yang kokoh. Ternyata pada kenyataannya tempat itu sederhana bahkan
sangat sederhana, tidak ada tembok tidak ada gerbang tidak ada pula bangunan
permanen yang bisa tempati hanya ada barisan tiang tiang beton besar nan kokoh
menjulang tinggi menandakan suatu saat nanti tempat ini akan memiliki bangunan
berlantai.
Setelah
menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dari mataram akhirnya tiba juga di
didesa tanak beak. Motor yang dari tadi saya kendarai dengan kecepatan tinggi
kini ampernya perlahan mulai turun dengan kecepatan rendah, sambil meraba
setiap sudut berharap tempat itu segera saya temukan, karena sebelumnya saya
tidak tahu persis lokasi yang dimaksud Mr Samuel dan hanya memberikan informasi
bahwa tempat itu berada persis di pinggir utara jalan, tengah sawah dan hanya
satu-satunya bangunan yang ada disekitaran itu.
Dari
plang yang bertuliskan selamat datang didesa tanak beak, mata mulai melirik
arah kiri kanan takut tempat itu terlewatkan, tak mempedulikan setiap
pengendara motor yang berlalu lalang menyalip dari tadi, bahkan beberapa pengendara sepeda motor membunyikan klakson
cukup keras memintak izin untuk menyalip, namun tak saya hiraukan, dan masih
tetap mengarahkan mata kearah utara jalan seperti yang diinformasikan.
Tak lama
kemudian terlihat dari kejauhan sebuah bangunan tanpa atap, hanya ada deretan
tiang tiang beton yang cukup besar dengan ruangan Bdek sederhana disampingnya.
Dalam hati saya cukup yakin bahwa tempat itulah yang saya cari.
Sesampai
disana saya menjadi tak begitu yakin
bahwa tempat itu yang dimaksud Mr. Samuel, sayapun memberhentikan motor
yang saya kendarai lalu mengambil ponsel di kantong celana sebelah kiri dan
mencari kontak Mr. Samuel lalu memanggilnya. “Assalmualkum sir saya sudah
ditanak beak pinggir jalan tengah sawah, apa benar ini lokasi yang antum
maksud” pertanyaan saya yang panjang dan kurang yakin sudah sampai dilokasi
membuat dia ketawa seolah berkata, kenapa,? Lokasinya tidak sesuai dengan
bayanganmu? Ya inilah lokasinya, beginilah suasananya..!
Belum
lama kami bercakap-cakap beliau tiba-tiba muncul dari gerbang melambaikan
tangan mengisyaratkan agar saya segera masuk. Saya kini menjadi yakin,
tempatnya tidak salah, yang salah bayangan saya yang mendiskripsikan tempat itu
seperti tempat kursus di kota kota pada umumnya.
Ditempat
itu dan pada pertemuan itu, menjadi pertemuan pertama kali saya dengan beliau
setelah hampir satu tahun tidak bertemu kembali semenjak keluar dari pondok.
Saya rasanya tidak sabar ingin menjambat tangat kasarnya, sehingga motor belum
terparkir dengan rapi saya sudah menjulurkan tangan dan mencium rindu telapak
tangan mengharap barokah darinya.
Hari itu
begitu cepat berlalu, Jam menunjukan pukul lima sore, tidak terasa sudah
seharian ngobrol dengan beliau, saat itu saya putuskan untuk tidak menginap disana
karena besok ada jam kuliah pagi, ditambah lagi tidak adanya pakian yang saya
bawa. Saya pamit dan menjabat tangannya erat sekali seolah esok tak akan
berjumpa kembali. Sebelum menghidupkan motor, beliau setengah berbisik agar
besok-besok saya bisa datang kembali dan berharap ikut nimbrung di sana. “nggeh
tad insyallah” kataku sambil berlalu meninggalkan tempat itu.
***
Keputusan
akan meningglkan kakak misan sendirian dan kontrakan kos yang masih tersisa
enam bulan lagi menjadi dilema tersendiri, bingung mau pilih yang mana, di satu
sisi makan saya mungkin akan terjamin kalau tinggal di tempat kursus yang
dimaksud Mr. Samuel, tapi jarak tempuh kuliah dengan tempat kursus menjadi
pertimbangan, apakah saya akan benar benar bisa melewati semuanya setelah nanti
berada di tempat kursus.
Seperti
biasa ibu kos akan membersihkan halaman kos setiap pagi seusai shalat subuh,
dan menyapa setiap anak kos yang bangun pagi untuk melaksanakan shalat subuh,
minimal bertanya gimana tidurnya?, semalam banyak nyamuk tidak?. Pertanyaan
seperti itu yang membuat saya merasa bahwa beliau adalah ibu saya, dan memang
pada kenyataannya beliaulah ibu setiap anak kos yang ada disana. Tapi kadang
kebanyakan merasa bahwa ibu kos adalah Pol. PP, karena setiap pulang telat dari
biasanya, mereka akan ditanya, udah kemana, kok pulangnya jam seginian? Atau
ketika bangun pagi, sedang matahari sudah cukup tinggi, sudah shalat subuh
belum?. Pertanyaan seperti itu bagi mereka sangat menjengkelkan, mereka seolah
mengatakan, jangan pedulikan apapun yang kami kerjakan, biarkan kami bebas
karena kami sudah dewasa, kami tahu mana yang harus kami lakukan.
Kesadaran
mereka akan esensi ibu kos itulah yang membuat sebagian merasa bahwa bertemu
ibu kos itu tidak mengasyikan tak seperti bertemu teman teman waktu dikampus.
Bagi saya ibu kos dan teman teman kampus sama saja, sama sama asyik,
permasalahannya adalah kita tidak menikmati saja.
Selesai shalat
subuh saya membersihkan ruangan luar tempat sepeda motor dan masak, karena kos
itu memilki dua ruangan. Ruang dalam untuk tidur dan belajar, sedang ruang luar
untuk parkir motor waktu malam dan masak. Setelah semua terlihat bersih saya
keluar dan menemukan ibu kos masih sibuk dengan daun daun mangga yang rimbun
didepan kontrakan kos. Dengan nada bercanda saya sapa ibu kos dengan menyuruh
agar pohon mangga ditebang saja supaya tidak terlalu capek setiap pagi
membersihkan halaman yang sampahnya didominasi oleh daun pohon mangga yang
berserakan.
Beliau
hanya membalas dengan senyum lalu melanjutkan kembali mengumpulkan setiap daun
yang berserakan tanpa menghiraukan candaan saya, dalam hati saya bergumam, loh
kenapa dengan ibu kos tidak biasanya judes seperti pagi ini, biasanya cukup
dengan sapaan singkat maka beliau yang akan banyak mengeluarkan kata-kata
dengan nada sejenis.
Saya
menjadi negatif thinking, dan membuat saya bertanya kepada diri sendiri, apa
saya pernah melakukan kesalahan beberapa hari belakangan ini sehingga membuat
beliau kecewa, lama setelah duduk didepan pintu kamar kos sambil menerawang
kesalahan apa yang membuat beliau begitu tak acuh.
Daun
daun mangga itu sudah terkumpul dan sudah dimasukan kedalam plastik hitam lalu
ditaruh dipinggir jalan depang gerbang halaman kos, beberapa menit kemudian
akan datang mobil warna kuning dari petugas kebersihan kota yang mengambil
setiap plastik dipinggir jalan sepanjang gank wilayah itu.
Saya
masih duduk termenung disana, sejurus kemudian beliau tiba tiba hadir dengan
secangkir kopi di tangan kanan dengan gelas agak besar, lalu menyapa saya, “eh
kenapa, muka kusut begitu kok disimpan” katanya sambil menyeruput kopi panas
yang masih terlihat mengeluarkan kukusnya, “ada masalah apa”? lanjutnya, dia
mulai terlihat bersahabat keibuannya sudah kembali pagi itu, “ahh, gak ada bu”
kataku singkat, “gak mungkin, saya sudah duluan lahir, wajah seperti itu sudah
sering saya temukan bahkan saya sendiri tak jarang memakainya” sambil tersenyum
beliau memulai candaan pagi itu.
Suasana
sudah mulai cair, disana saya curhat atas kegalauan dan mintak pendapat tentang
meninggalkan kos yang masih tersisa tinggal enam bulan lagi. Kata-katanya cukup
menyentuh, dan menjadi salah satu alasan penguat untuk meninggalkan kos itu. “kamu
masih muda, jarang anak muda mau menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang
bermanfaat, justru kebanyakan berpoya poya” begitulah kata-kata yang masih
terngiang ditelinga saya sampai hari ini.
***
ketika pertama
kali menginjakkan kaki ditempat itu, Masih teringat jelas bagaimana keringnya
jalan utama masuk ke tempat yang kini menjadi persinggahanku. pohon-pohon masih
sangat terlalu kecil untuk meneduhkan panasnya matahari di musim kemarau tiba.
rerumputanpun ikut tak menunjukan partisipasinya meramaikan tanah yang kini
kami sebut sebagai tanah kampung naga. karena hanya ada naga yang berdiri
melilit tiang-tiang beton sepanjang satu setengah meter di halamana depan
tempat itu.
di kala malam
tiba, suasana seperti tak ada kehidupan yang sesungguhnya. hanya ada bantuan
secercah cahaya lilin yang tak pernah saya tak syukuri. Desel yang kami punya
hanya di nyalakan saat ada siaran tv yang sangat menarik. Liga championpun tak
setiap malam dapat kami tonton, hanya pada pertandingan yang kami anggap
memanas baru kemudian kami tergesa-gesa mencari bensin untuk menghidupkan desel.
Saat itu, saya
baru duduk di semester III di salah satu kampus negeri di mataram, (IAIN
Mataram) setiap ingin berangkat kuliah harus mandi dengan bekas ikan, karena
memang air kamar mandi di alirkan dari sana, syukurnya adalah saya tak pernah
merasakan sakit kulit seperti perkiraan para dokter yang ketika kita
menggunakan air yang kurang bersih untuk mandi dan lain sebagainya maka kita
akan sering terkena penyakit, dalam hati saya membantin dan bersyukur inilah
berkah tuhan atas niat ikhlas melakukan perbuatan baik.
Waktu terus
berjalan dengan segala cara dan atas tuntunan petua kami, akhirnya satu tahun
lebih sudah berlalu, kekeringan yang dulu kami rasakan kini berubah menjadi
kesejukan yang luar biasa, rerumputan yang dulu enggan untuk tumbuh, kini tak
sedikit para pengembala sapi datang ke tempat kami untuk menyabit, pohon yang
dulu hanya sebatas pinggang kini sudah tak mampu tuk saya jumpai daunnya, lampu
sudah tak menjadi permasalahan, di setiap sudut area sudah terpasang
dengan tiang sederhana menjulang tinggi.
Air yang dulu
dipakai mandi berasal dari kolam ikan, kini sumur bor siap membasahi setiap
badan yang berkeringat, bahkan beberapa waktu silam, seorang team survieyor
asal jawa mendatangi tempat kami dan
mengambil sampel untuk mengetahui kandungan air yang ada disini, hasilnya
sangat mengejutkan bahwa kandungan air yang ada ditempat ini jauh lebih bagus
dari produk air gelasan yang beredar di pulau Lombok.
Masih teringat jelas satu tahun silam,
bagaimana keringnya jalan utama, masuk ke tempat yang kini menjadi
persinggahanku. pohon-pohon masih sangat terlalu kecil untuk meneduhkan
panasnya matahari di musim kemarau tiba. rerumputanpun ikut tak menunjukan partisipasinya
meramaikan tanah yang kini kami sebut sebagai tanah kampung naga. karena hanya
ada naga yang berdiri melilit tiang beton sepanjang satu setengah meter.
di kala malam tiba, suasana seperti tak ada
kehidupan yang sesungguhnya. hanya ada bantuan secercah cahaya lilin yang tak
pernah saya tak syukuri. desel yang kami punya hanya di nyalakan saat ada
siaran tv yang sangat menarik. Liga championpun tak setiap malam dapat kami
tonton, hanya pada pertandingan yang kami anggap memanas baru kemudian kami
tergesa-gesa mencari bensin untuk menghidupkan desel.
Saat itu, saya baru duduk di semester III di
salah satu kampus negeri di mataram, (IAIN Mataram) setiap ingin berangkat
kuliah harus mandi dengan bekas ikan, karena memang air kamar mandi di alirkan
dari sana, syukurnya adalah saya tak pernah merasakan sakit kulit seperti
perkiraan para dokter yang ketika kita menggunakan air yang kurang bersih untuk
mandi dan lain sebagainya maka kita akan sering terkena penyakit, dalam hati saya
membantin dan bersyukur inilah berkah tuhan atas niat ikhlas melakukan
perbuatan baik.*
Awal dulu duduk di bangku aliyah, aku punya mimpi bisa pergi
ke luar daerah menggunakan kapal, bagi ku itu mimpi yang lumayan berat, melihat
ekonomi keluarga ku yang tak begitu meyakinkan dan kemampuan yang ku miliki tak
seberapa, bulan demi bulan hingga berlipat menjadi sebuah tahun, mimpi itu
semakin tak terbayang karena tidak ada tanda tanda aku bisa menggapainya,
setelah baca buku tentang kekuatan mimpi, aku akhirnya kembali merangkul
dan memegang erat mimpi itu, mencoba menelusuri bagaimana supaya bisa tercapai.
hingga di akhir bangku aliyah, aku dapat
tawaran beasiswa full S1 dari kepala sekolah utk melanjutkan pendidikan ke
salah satu perguruan tinggi terkenal di jogja "UGM", rasanya aku
sangat senang, akhirnya mimpi itu segera akan tercapai melebihi dari yang ku
impikan, tapi tuhan berkata lain, setelah berkas aku kumpulkan dan lengkapi, di
hari H aku dan bersama salah satu kawan cewek ku harus test ternyata guru yang
akan membawa kami test pergi ke acara pernikahan salah satu guru pondok ku,
sehingga kami tak bisa mengahadiri moment yang sangat berharga itu, dan di
nyatakan tidak masuk kategori.
Sekitar satul
kilo dari perumahan masyarakat Tanak Beak ke arah barat menuju Bengkel
dan sekitar 500 meter dari perumahan masyarakat Tanak Beak Dasan ke arah timur
menuju Kantor Desa Tanak Beak. di sinilah jalur yang semua masyarakat sekitar
memanggilnya jalur Rawan, bagaimana tidak, sekitar 5 tahun silam, jalur inilah
yang sering di gunakan oleh para pencuri maupun perampok untuk membawa hasil
curian dan rampokan yang mereka dapatkan. dan di jalur ini pula masyarakat
sering di cegat lalu barang-barangnya diambil.
Di jalur inilah bangunan Pesantren Darul
Hikmah Didirikan, awalnya banyak masyarakat yang meragukan kelanjutan dari
pembangunan pesantren ini, melihat kejadian-kejadian yang pernah di alami oleh
sebagian masyarakat sekitar. Tapi karena keyakinan pimpinan pesantren,
pembangunan terus dilanjutkan, dengan harapan, kedepannya justru jalur ini
menjadi jalur yang aman oleh semua orang karena keberadaan pesantren ini.
Tiga tahun sudah kini jalur itu mulai ramai
dan aman, banyak orang yang berlalu lalang hingga larut, sampai kadang jam tiga
malam masih ada suara motor yang terdengar melewati jalur tersebut, berbeda
dengan sebelum pesantren ini ada, jangankan jam tiga, jam delapan waktu isya’
pun sudah tidak ada satupun terdengar knalpot motor. Apalagi sampai harus jalan
kaki.
Dari hari ke hari sudah banyak masyarakat
yang datang langsung ke pesantren sekedar bercerita betapa senangnya pesantren
ini ada, karena mereka sudah tidak lagi takut dan was was melewati jalur ini
hingga jam berapapun.
Selain takut dengan itu, masyarakat yang
mem
Sekitar satul
kilo dari perumahan masyarakat Tanak Beak ke arah barat menuju Bengkel
dan sekitar 500 meter dari perumahan masyarakat Tanak Beak Dasan ke arah timur
menuju Kantor Desa Tanak Beak. di sinilah jalur yang semua masyarakat sekitar
memanggilnya jalur Rawan, bagaimana tidak, sekitar 5 tahun silam, jalur inilah
yang sering di gunakan oleh para pencuri maupun perampok untuk membawa hasil
curian dan rampokan yang mereka dapatkan. dan di jalur ini pula masyarakat
sering di cegat lalu barang-barangnya diambil.
Di jalur inilah bangunan Pesantren Darul
Hikmah Didirikan, awalnya banyak masyarakat yang meragukan kelanjutan dari
pembangunan pesantren ini, melihat kejadian-kejadian yang pernah di alami oleh
sebagian masyarakat sekitar. Tapi karena keyakinan pimpinan pesantren,
pembangunan terus dilanjutkan, dengan harapan, kedepannya justru jalur ini
menjadi jalur yang aman oleh semua orang karena keberadaan pesantren ini.
Tiga tahun sudah kini jalur itu mulai ramai
dan aman, banyak orang yang berlalu lalang hingga larut, sampai kadang jam tiga
malam masih ada suara motor yang terdengar melewati jalur tersebut, berbeda
dengan sebelum pesantren ini ada, jangankan jam tiga, jam delapan waktu isya’
pun sudah tidak ada satupun terdengar knalpot motor. Apalagi sampai harus jalan
kaki.
Dari hari ke hari sudah banyak masyarakat
yang datang langsung ke pesantren sekedar bercerita betapa senangnya pesantren
ini ada, karena mereka sudah tidak lagi takut dan was was melewati jalur ini
hingga jam berapapun.
Selain takut dengan itu, masyarakat yang
mem
Hari/tgl :
jumat 14-juni 2013
Hari jumat
saat setelah menyelesaikan kuliahku tepatnya jam 11 Saya langsung meluncur
kembali ke pondok tercinta, di pondok, Saya lihat kumpulan teman teman ku yang
di pimpin orang yang selama ini Saya banggakan, mamik Khalil, Saya menyebut
mamik karena sudah sepantasnya Beliau memamakai gelar itu, melihat apa yang beliau
miliki (ilmu) dan apa yang sudah beliau perbuat untuk pondok ini. Saya ucap
salam dan mencium tangannya berjabat, jejeran Koran di depannya menggerakan kan
ku untuk ikut membaca berita hari itu, dengan teliti Saya melihat beliau
membalikan setiap halaman sambil melingkari setiap nama yang beliau kenal di
halaman itu dengan polpen hitam di tangan kanannya, Koran hari jumat tanggal 14
juni di halam 10 dengan topic besar di atas halaman itu, NAMA
CALON SEMENTARA LEGISLATIF, setelah beberapa menit Saya baru sadar kenapa beliu
hanya membolak balikan halaman yang hanya memiliki judul yang sama itu.
Di temani
salah satu kawan ku, Mr Ma’un, beliau mencari nama-nama calon legislatif yang
menjadi sasaran undangan pada acara pergantian OSDH yang akan kami laksanankan
nanti pada tanggal 22 bulan itu, dari nama calon sebanyak itu, beliau hanya
melingkari nama nama yang menurutnya dekat dari lokasi untuk di undang. Mr Ma’un
yang saat itu di tugaskan untuk menulis ulang ke buku pribadinya dengan cekat
menuliskan nama nama yang akan di kirimi surat undangan, lalu pergi meninggalkan
kami setelah selesai menuliskan nama nama itu di bukunya untuk membuat surat
yang di maksud secepatnya.
Koran yang
berceceran kini perlahan bukan menjadi focus perkumpulan pagi menjelang siang
itu, galak tawa mulai keluar dari mulutnya seperti perkumpulan yang biasa kami
lakukan, selalu ada tawa di sela perkumpulan serius membahas tentang
perkembangan pondok. Mata ku menatap arah duduknya berharap ia menyinggung
tentang keberangkatanku ke bandung, beliau menatap Saya cemas seolah bisa
membaca hati ku, lalu beliau membukanya dengan bertanya,”sudah pernah di kontak
dari kantor” dengan halus ia mengutarakan pertanyaan itu, dan dengan hati hati
pula saya mencoba mengatur kata kata menjawab pertanyaannya, “ belum mik”
sedikit kecewa dan khawtir karena satu hari lagi dari keberangkatan, sedang
tiket belum saya lihat, beliau memang pintar membaca hati orang, seolah ia tahu
perasaan kawatirku, beliau mencoba
meyakinkan ku dan berkata “ di tunggu aja mungkin nanti jam 3 antum di panggil”.
sedikit lega karena ada kepastian walaupun saya tak tahu apakah kata kata itu
hanya bertujuan untuk menghibur ku.
Kami masih
duduk bersama di depan kantor sederhana bersekatkan bedek, di sela
keteganganku, Handphone yang tersimpan
di saku tiba tiba berbunyi, berharap itu dari salah satu staff kantor kemenag
yang mamik tadi maksud, satu massage di terima, tanpa saya pedulikan siapa yang
mengirimi pesan, saya langsung membaca isinya, dan Alhamdulillah harapan ku
benar, kecemasan ku hilang, ia menyuruhku datang mengambil tiket dan surat
tugas ke kantornya jam 3 sore nanti. Saya tak membalasnya panjang, sampai salam
pun lupa karena kebahagiaan ku membeludak sehingga hanya membalas bilang “Nggih
pak”.
Ingin rasanya
pergi dari tempat duduk itu, dan bersujud syukur karena ini adalah kepergian
pertamaku keluar kota di tambah dengan tidak ada biaya yang harus saya
keluarkan. tapi saya tak seceroboh itu, kesenangan itu saya simpan rapat-rapat
dalam hati dan tetep bertahan duduk bersamanya.
Jam menunjukan
pukul 12 siang itu, suara lantunan ngaji di setiap masjid terdengar dengan
indahnya, menyadarkan kami kalau hari itu adalah hari jumat, ia terlihat
bergegas dan menyuruh kami bersiap-siap untuk jum’atan. Setelah itu beliau
mengucapkan salam lalu pergi meninggalkan kami. Saya langsung masuk kamar dan
sujud sukur sambil beberapa kali mengucapkan Alhamdulillah di sana.
Tak terasa
azan shalat jumat sudah di komandangkan, saya bangkit dan segera
bersiap-siap untuk memenuhi panggilannya. Dengan pakian sederahana saya
siap berangkat jum’atan dan menghidupkan mesin si kuning yang sudah beberapa
tahun ini menemani perjalanan ku. Tiba di masjid, saya ambil air wudhu karena
tadi tidak sempat ambil air wudhu di pondok takut telat. Setelah urutan wudhu
selesai saya lakukan lalu menaiki masjid dan shalat dua rakaat di sana.
Beberapa menit
kemudian Khutbah telah selasai di bacakan, salah satu warga yang bertugas hari
itupun mengomandangkan iqomah pertanda shalat jumaat akan segera kita mulai.
Dengan pakian serba putih Kiyai yang selama ini di percayakan masyarakat untuk
memimpinya dengan mantap mengambil posisi di depan makmum sebagai imam. Seperti
biasa sebelum ia mulai shalatnya ia tak pernah lupa mengingatkan mamkmumnya
untuk merapikan dan merapatkan shafnya.
Jam dinding
masjid itu menunjukan jam 01.30 amalan shalat jumat telah selasai kami baca,
masjid yang terletak di Dasan, Desa Tanak Beak ini memang memiliki keunikan
dalam berjamaah shalat jumat, ia masjid yang paling cepat menyelasiakan jum’atannya
disbanding masjid lainnya di Desa. Sepertinya ia bisa membaca keadaan
masyarakatnya yang kian hari sudah tidak terlalu senang dengan jumatan yang prosesnya
lama seperti halnya masjid masjid besar di kota.
Siang itu
entah kenapa nafsu makan saya tidak ada, saya juga tidak tahu kenapa satu minggu
belakangan ini badan ku terasa tidak fit, sehingga tak jarang pak zul kepala
sekolah ku yang juga salah satu orang yang saya banggakan di pondok ini
mengeledek bilang “ tidak usah tegang naik pesawat tad, naik pesawa itu santai
ja tidak lebih seperti naik mobil” Saya hanya merespon dengan Senyuman manis padanya.
Saat itu memang wajah saya terlihat sedikit pucat tapi bukan karena saya takut
akan naik pesawat walaupun ini adalah pertama kalinya saya akan terbang
menyebrangi lautan menggunakant pesaawat.
Matahari perlahan
bergeser kearah barat, saya lihat jam di handphoneku sudah menunjukan pukul
02.30 teringat kalau hari ini, saya ada janji dengan salah satu staff yang
mengurus keberangkatan ku, dengan cepat saya memecet tombol Handphone dan
mencari kontak teman yang akan menjadi fatner saya berangkat ke bandung, Ustad
Yusron namanya, lalu mengirimnya pesan dan mengajak beliau ketemu nanti di
kantor kemenag NTB. karena saya tidak pernah bertemu beliau sebelumnya. Ia hanya memberitahu via
handphone kalau keberangkatan kebandung nanti bersama dengannya. Setelah pesan
pendek saya kirim, tak lama kemudian ia membalas dan menyetujui
perjanjian itu.
Kurang lebih
30 menit Saya habiskan perjalanan dari pondok ke mataram, di perjalanan Handphone
saya berdering satu panggilan masuk, karena saat itu saya berada di lampu merah
dan kebetulan sedang menyala merah, dengan segera saya ambil Handphone yang saya
letakan di kantong celana sebelah kiri dan melihat ternyata Ustad Yusron.
langsung saja saya menekan tombol warna hijau dan mengucapkan salam untuknya “
assalmukum tad, napi? saya awali percakapan via handphone itu,
dengan suara lembut dan sopan ia menjawab salam ku, “walaikumslam, saya udah di
kantor ini, antum di mana?” sambil sedikit bergegas karena klakson mobil yang
berada di belakang sudah mulai berbunyi “ana di jalan tad bentar lagi nyampe,
tunggu aja bentar” kayaknya dia paham kalau dalam perjalanan pasti tidak aman
untuk keselamatan jika melanjutkan pembicaraan lewat telpon, lalu ia akhiri
percakapan singkat itu dengan mengucap salam dan berpesan agar saya hati hati
di jalan.
saya paksakan
si kuning berlari lebih cepat lagi, karena takut membuat ia kecewa menunggu
lama, tak samapi 10 menit dari jarak kami ngomong, akhirnya sampai
juga di kantor wilayah kemenag NTB tepatnya di utara kantor imigrasi depan
sebelah selatan kantor DPRD NTB. Saya beranikan diri memasuki kantor yang cukup
mewah itu, dan bertanya di security yang bertugas hari itu, “
assalamualaikum pak, ruang tempat mengurus kepergian ke bandung untuk
pengembangan KTSP pondok pesantresn salafiyah di mana ya”? saya melihat ada tanda
Tanya di atas kepalanya “maaf pak, kalau yang itu saya tidak tahu, cobak masuk
aja ke dalam nanti bertanya di sana”?
PD saja saya
masuk walaupun sebenarnya tidak tahu mau masuk ke ruangan mana, tiba tiba
terbesit di kepala kalau teman sekepentingan denganku itu sudah sampai duluan
di sana, lagi lagi saya mencari kontak
ustad yusron dan menelponya, “ tad ana udah nyampe kantor ni, antum di mana?” Suara
angin ternyata mendominasi sehingga suaranya agak kabur, beberapa kali saya
bilang hallo namun suaranya tetap tak jelas, perlahan suaranya mulai
kedengaran, nampaknya tadi ia berjalan kearah bawah karena sebelumnya ia sudah
berada di tempat pengambilan surat tugas di lantai 2, “ saya
sedang menuju ke lantai satu ini” antum di mana”? hehe dalam hati
saya ketawa, ternyata bukan saya yang menghampiri tapi memang kebetulan saja
dia ke lantai satu dan akhirnya bertemu di sana.
“Ustad yusron
ya”? saya awali percakapan langsung untuk pertama kali dengannya dan
saling menjabat tangan, “nggih saya yusron” dia tak bertanya banyak tentang
saya saat itu, dalam hati saya bergumam, ooo ini toh namanya ustad yusron,
ternyata orangnya sudah lebih berumur dariku, tapi ia tetap sopan dan
menghormati saya meski umur kami jauh terpaut, itu lah yang membuat saya juga
segan dengannya.
Setelah
menaiki beberapa anak tangga, kami berdua akhirnya sampai di ruangan tempat
pengambilan surat tugas, salah seorang laki laki yang juga merupakan staff kantor itu member kami sebuah amplove berisi
tiket pulang pergi, dengan ternsenyum saya mernerima amplove itu, lalu kami pegi
meninggalkan ruang ber AC itu dengan tujuan bandung di benak kami. Di sela
perjalanan menuju tempat parkir, kami bercakap cakap sehingaa kami
sedikit saling tahu satu sama lain, tak terasa anak tangga yang kami lewati
sudah habis kami pijaki tempat parkirpun sudah terlihat di depan mata, saya tak bisa banyak ngobrol saat itu, dia pun
sama, akhirnya kami akhiri pertemuan sore itu, dengan berjabat tangan dan
berharap esok kami ketemu di bandara soekarno hatta di Jakarta, karena setelah
melihat tiket ku, ternyata jadwal kebarangkatanku berbeda dengan nya, saya lebih awal satu jam.
Malam terlihat
sunyi semua santri sibuk dengan buku yang ada di depannya, sesekali suara kodok
menghibur kami dengan suaranya yang menggelitikan telinga, tas ransel warna
hitam sudah siap saya bawa, karena habis
pulang dari kantor kanwil tadi sore saya langsung menyiapkan pakian dan kebutuhan yang
harus di bawa, rasanya pingin malam itu cepat cepat tidur supaya perjalanan
esok tidak ada kendala soal tenaga, tapi mata ini tetap tak bisa tertutup,
masih membayangkan gimana cara menaiki pesawa dan prosedur masuk bandara, karena
selama ini saya hanya tau teori kalau
berpergian harus melalui check in, dan menuggu di waiting room setelah mendapat
boarding pas di tempat check in.
Malam semakin
larut, saya paksakan mata ini terpejam dan melayang ke dunia kapuk, mimpi malam
itu tidak saya hiraukan. setelah pukul 04.00 salah seorang teman membangkukan
ku dari mimpi yang tak sempat saya ingat itu dan segera menuju kamar kecil.
******
BANDARA
INTERNASIONAL LOMBOK (BIL)
15 juni 2013
Jam menunjukan
pukul 04.15 pagi, mobil zebra hitam memecah keheningan malam dan meluncur ke
arah timur selatan menuju BIL (bandara internasional lombok) pak zul yang saat
itu mengendarai mobil terlihat pede sehingga larinya lebih kenceng dari
sebelumnya, berbeda dengan kawan sebelah kiriku, pak zun, pagi itu kelihatan
sangat capek sehingga tertidur pulas karena tadi malam tidak tidur menjaga
pondok di waktu malam (bolis), sekitar 45 menit mobil itu berlari kenceng, akhirnya
sampai juga di tujuan.
saya ambil tas ransel warna hitam bermerkan
shicata itu dan keluar dari mobil yang membawaku dari awal. tubuh ku
gerogi selain karena dinginnya malam, ini adalah awal saya mengikuti prosedur masuk bandara. Saya masih tetap berdiri di depan gate keberangkatan,
saya perhatikan layar TV yang entah apa namanya saya tidak tahu, yang jelas di sana tempat melihat
informasi pesawat yang akan berangkat dan yang akan datang. Sambil menunggu
kedatangan pak zul yang katanya mau parkir mobil.
saya lihat
dengan teliti dan menemukan informasi pesawat lion Air tujuan Jakarta akan
berangkat jam 06.55 dan sudah membuka check in. jam di handphone
menunjukan pukul 5.15 namun pak zul belum kelihatan melangkahkan kakinya,
setelah beberapa menit akhirnya dengan baju putih kaos kotak kotak, ia
menhampiri ku dengan senyum dan melepas keberangkatan ku. Saya cium tangan dua
orang kawan sekaligus guru ku itu dan beliau berpesan “baik-baik di sana,
jangan lupa telpon atau kasih kabar kalau sudah sampe Jakarta”.
Pagi itu masih
kelihatan gelap, mata saya masih tetap tertuju pada dua guru ku yang
melangkah ke arah tempat mobil diparkir lalu perlahan menghilang, setelah
mereka benar benar tidak kelihatan lagi,
saya baru masuk dan check in di dalam
bandara.
Setelah check
in dan mendapatkan boarding pass, saya langsung menuju kearah ruang tunggu pesawat,
sampai di sana pintunya masih tertutup, belum ada keliatan satu orangpun
petugas di sana, dua orang sebaya dengan ku terlihat gelisah di kursi luar
waiting room, ku hampiri dan bertanya, “ dari mana bang” dengan logat bimanya
ia menjawab “ dari bima bang mau ke Kalimantan tapi transit di Jakarta” saya
belum menanyakan mau kemana malah ia
sudah beri tahu saya tujuannya, belum
sempat saya bertanya kembali eehh malah
ia bertanya lagi, “kalau abang mau kemana” “ saya mau ke bandung,” sambil tersenyum ke arahnya,
setelah beberapa menit ngobrol dengan orang bima itu, seorang laki-laki berbaju
putih kelihatan tergesa-gesa menghampiri pintu ruang tunggu nampaknya ia sadar
kalau ia telat membukakan kami pintu sehingga membuat para penumpang banyak menunggu
di luar ruang tunggu, setelah ia berhasil membuka pintu, ayunan tangan kearah
semua penumpang ia lambaikan pertanda kami harus masuk, sebelum saya duduk manis di kursi ruang tunggu, saya harus melewati mesin pendeteksi dulu,
jangan-jangan ada sesuatu yang membuat bahaya orang banyak dari barang barang yang
saya bawa, Alhamdulillah setelah ia menggeledah jaket dan beberapa kantong
celana ia kemudian menyuruhku mengambil tas dan mempersilahkan duduk di kursi.
saya pandangi
setiap sudut ruangan itu, semua penumpang terlihat sibuk dengan bawaannya, tak
ada yang saling memperhatikan kecuali beberapa ibu ibu sedang asyik mengobrol
dengan kawan sebayanya, entah apa topik pembahasannya hingga ia tak hiraukan
penumpang lain yang berada di samping duduknya dari tadi.
sudah dua kali pengeras suara terdengar
menghimbau agar penumpang segera memasuki ruang tunggu, namun
kawanan ibu ibu tadi tetap tak menghiraukan suasana itu, hingga himbauan
terakhir dengan lancarnya sang petugas bandara melalui pengeras suaranya
menyuruh kami agar menaiki pesawat, Nampaknya jam sudah menunjukan pukul 06.00
WITA tepat dengan yang ada di tiket ku, dalam hati saya bersykur, kali ini pesawat Lion Air yang
terkenal dengan tradisi delay nya tak berlaku. setelah
himbauan tadi semua penumpang terlihat buru buru menuju gerbang masuk menuju
pesawat, sambil menyodorkan boarding pass dan di lengkapi dengan kartu
identitas (KTP/SIM) kami memasuki tubuh pesawat warna putih yang bertuliskan Lion
Air di tubuh sejajar dengan jendela pesawat.
DALAM PESAWAT
Setelah
memasukan tas ke dalam bagasi, saya lihat kembali boarding pass yang dari tadi
saya genggam dengan sangat erat, untuk meyakinkan diri kalau kursi yang akan saya
duduki benar dan sesuai dengan yang
tertera di kertas kecil warna putih itu, saya perhatikan baik baik di setiap
jejeran kursi yang sudah tertata rapi sambil mencari nomor yang pas dengan yang
sudah saya pegang, 7D. nomor ganjil yang
memiliki posisi agak depan dari bagian pesawat, membuat saya cepat menemukan
nomor yang sebentar lagi akan saya duduki karena memang saya memasuki pesawat melalui depan,
sedangkan penumpang yang seatnya di atas 20 memasuki pesawat melauli belakang
dan harus turun ke daratan bandara.
Tiga orang
pramugari berpakian batik kemerahan terlihat sibuk memeriksa setiap bagasi dan
menutupnya jika sudah penuh, penumpang kini sudah duduk rapi di kursinya masing
masing tak terkecuali saya , suara besi yang menjadi kepala sabuk pengaman
terdengar seperti lantunan lagu acapela yang pernah kami mainkan di pondok
bersama tujuh laskar cheng ho[2]. Kepala ku melirik teman di samping yang dari
tadi tertidur pulas, berharap ia memberi contoh cara menggunakan sabuk pengaman
pesawat itu, sedikitpun saya tak
mendapatkan kemahiran di sana, akhirnya saya nekat dan mencoba sendiri, saat sabuk itu saya
eratkan perutku terasa sedikit meronta
karena terlalu erat, saya panik tapi tak
berani memperlihatkan kepanikan ku, karena malu jadi bahan ketawaan seisi
pesawat, saya tahan sambil mencoba untuk
mengendorkan sabuk itu, setelah beberapa cara saya gunakan akhirnya, perutku kembali terasa
normal karena berhasil saya kendorkan.
Bunyi suara
mesin pesawat yang saat itu saya tumpangi mulai menggaung di telinga, perlahan
ia mulai berjalan menyusuri landasan. para pramugari dan pramugara mengambil
posisi untuk memberitahu kami cara menggunakan sabuk pengaman dan memakai
pelampung jika nanti penerbangan dalam keadaan tidak baik. para penumpang juga
di larang menghidupkan Handphone dan alat elektronik lainya karena dapat
mengganggu system selama penerbangan. mereka terlihat kompak dan
bersemangat, tak jarang ia mengembangkan mulutnya dan tersenyum manis membuat
ia kelihatan sempurna. Sambil pesawat mengambil ancang ancang untuk tinggal
landas ia manfaatkan waktu yang sedikit itu untuk breafing kami.
Pesawat itu
semakin bertambah kecepatannya, tak lupa pramugari sekali lagi mengingatkan
kami agar sabuk pengaman di gunakan, wussssss suara mesin pesawat itu
meninggalkan bandara dan terbang, huhhh dalam hati saya bergumam “jadi begini rasanya naik pesawat,
cukup ekstrim dan membuat sedikit tegang”.
********
DI BANDARA
INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA
Setelah
sekitar dua jam di atas udara bersama Lion Air, kini pesawat itu mendarat di
bandara soekarno hatta, namun dua puluh menit sebelum roda pesawat menyentuh
landasan, kami kembali di ingatkan untuk mengenakan sabuk pengaman, karena
biasanya saat pesawat landing saat itu pula sabuk pengaman di butuhkan.
Dari ketinggian kira-kira seratus kaki terlihat bangunan bertingkat menjulang
tinggi mengarah ke angkasa, air laut terlihat tenang dengan warna khasnya,
cuaca pagi itu juga sangat mendukung sehingga ibu kota dari udara kelihatan
sangat indah.
Roda pesawat
kini sudah menyentuh daratan bandara Soekarno Hatta, suara roda
pesawat yang di rem sangat menakutkan sebagian penumpang yang yang
belum terbiasa mendarat. Alhamdulillah setelah jarak beberapa meter, suara roda
itu tak kedengaran dan pesawat terlihat jinak oleh para pilot handal yang
membawa kami saat itu. Perlahan pesawat itu berjalan layaknya mobil yang
berlari di jalan raya hingga kami tiba di tempat penuruan penumpang.
Tas ransel
yang di dalamnya berisi pakian sudah di pundakku, terlihat penumpang berdesak
desakan mengantri tak tahan ingin cepat keluar dari badan pesawat, karena
posisi ku lumayan dekat dari pintu keluar membuat ku tak banyak menghabiskan
tenaga mengantri keluar. Setelah berhasil keluar dari badan pesawat, saya ambil handphone di kantong sebelah
kananku yang dari dua jam yang lalu saya switch off atas perintah dan keamanan
penerbangan, lalu menghidupkannya kembali, Beberapa sms yang masuk tak saya
hiraukan. yang pertama kali saya lakukan
adalah mencari kontak dua teman bima ku yang barusan saja saya kenal dan mengajak mereka jalan bareng menuju
terminal kedatangan penumpang, Karena jujur saja ini adalah kali pertama saya menginjak kan kaki di Jakarta, jadi semua
terlihat awam dan tentunya saya butuh
kawan untuk mengobrol. Saya tak mikir
panjang lagi, saya tekan tombol memanggil setelah nama arief saya temukan di kontak handphone. Sambil menengok
mereka dari jendela atas, Hanphone tetap saya posisikan di telinga sebelah
kiri, mereka baru saja keluar dari jebakan antrian panjang keluar pesawat namun
panggilan ku tak juga di angkat, ia kelihatan sibuk dengan barang bawaanya
hingga tak sempat mengambil Handphone yang entah di mana ia taruh. Saya paham dengan kondisinya dan
memutuskan untuk memberanikan diri di mana gerbang yang akan ia
tuju. Bermaksud bertemu di sana. Ternyata tuhan tahu bagaimana kami saling
membutuhkan sehingga kami di pertemukan di gerbang lantai satu menuju terminal
IB.
Ia melambaikan
tangan ke arahku, tapi saya tak membalas
dengan hal yang sama hanya membalasnya dengan senyum. dengan logat khas bimanya
ia awali percakapan seasion kedua setelah pertemuan pagi di BIL, “ apa abang
langsung berangkat ke bandung” ? nampaknya abang adalah panggilan khas kota
bima yang sering ia lontarkan ketika menyapa orang yang lebih tua darinya, “tidak
saya mau tunggu teman dulu” kataku
sambil berjalan beriringan keluar dengannya, di terminal saya baru tahu setelah melihat tiket transitnya
kalau tujuan aslinya adalah Kalimantan, tapi transit di Jakarta. Belum sempat
kami sampai di pintu kedatangan Seorang petugas bandara sambil melambaikan
tangannya menginstruksikan penumpang yang transit untuk segera di data sesuai
dengan tujuannya. Ia tak memperhatikan orang yang menggunakan sergam merah itu,
perhatiannya ternyata cukup focus ke arah ku. Untungnya saya tahu kalau ia juga salah satu penumpang yang
transit di sana, saya ambil tiketnya dan mendafarkan namanya, sambil mengerutkan
dahinya petugas itu bertanya “ apa ada barang yang di bagasikan ”? saya tidak tahu persis jawabannya karena itu bukan
tiket milikku, karena ia berada dekat di sampingku dan mendengar pertanyaan
yang di lontarkan sepontan saja ia menjawab, “ ia ada” petugas
itu lalu melanjutkan pertanyaan yang berbeda, “ barang
bagasinya mana”? kali ini muka cerianya tiba tiba berubah menjadi expersi yang
tak pernah saya ingin lihat,
wajahnya tiba tiba merah dan ia kelihatan panic, ternyata bagasinya
belum sempat ia ambil, saya yang di
belakangnya berdiri sambil menekan nekan tombol handphone sedang chating dengan
kawan ku di Lombok sudah tahu kenapa ia pasang expresi seperti itu, saya akhirnya mengambil alih pembicaraan dan
bertanya, “kalau bagasi yang belum sempat di ambil, ngambilnya di mana mba”?
dengan senyum ia menjawab “ mas harus balik lagi ke terminal di mana mas turun
dari pesawat”. Waduhhh dalam hati saya terkejut, bagaimana tidak jarak
terminal tempat saya turun dengan tempat
saya berdiri saat ini lumayan
jauh, kira kira 500 meter yang di tempuh sekitar 15 menit dengan jalan kaki, saya
sembunyikan keluhan hati itu dan
mengajaknya kembali ke terminal yang di maksud.
Langkah kakiku
sengaja saya percepat, karena takutnya nanti teman yang saya tunggu malah sudah
datang dan pergi meninggalkan ku sendirian. Sampai di terminal ia engos engosan
nampaknya ia tidak biasa jalan secepat
saat itu. Tanpa saya pedulikan keadaanya karena yang terpenting adalah
barangnya ia temukan dan terenyum kembali, saya beranikan diri mengahadapi
salah satu petugas bandara saati itu dan bertanya bagaiamana mengambil bagasi
yang tak sempat di ambil ketika turun dari pesawat tadi, dengan sebuah HT di
tangannya ia kelihatan sangat sibuk sedang berkomunikasi dengan sejawatnya,
sehingga ia tak menggubris pertanyaanku, tanpa putus asa saya ulangi
pertanyan yang sama dan sedikit perlembut bahasanya. Akhirnya ia pun tersadar
dan mengarahkan kami sampai akhirnya kami menemukan barang itu.
Sudah hampir
satu jam kami berkeliaran tanpa tahu arah namun punya tujuan yang jelas,
kejadian itu membuat kami perlahan menjadi sangat dekat layaknya sahabat yang
sudah lama saling mengenal. Setelah barang itu kini berada ditangannya,
Akhirnya tibalah saatnya kami harus berpisah dan hari itu pertemuan pertama
sekaligus terakhir kami sampai sekarang.
PEMIKIRAN EKONOMI AL-SYATIBI (W.790 H/1388 M)
Jumat, 22 Maret 2013
Posted by Unknown
Tag :
semester 3
Riwayat Hidup
Al-syatibi
yang bernama lengkap Abu Ishaq bin Musa bin Muhammad Al-Lakhmi Al-Syatibi
merupakan salah seorang cendikiawan Muslim yang belum banyak diketahui latar
belakang kehidupannya. Yang jelas, ia berasal dari suku Arab Lakhmi. Nama
Al-syatibi dinisbatkan ke daerah asal keluarganya, Syatibah (Xatiba atau
Jativa), yang terletak di kawasan Spanyol bagian timur.[1]
Al-Syatibi
dibesarkan dan memperolehseluruh pendidikannya di ibu kota kerajaan Nashr,
Granada, yang merupakan benteng terakhir umat islam di Spanyol. Masa mudanya
bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Muhammad V Al-Ghani Billah yang
merupakan masa keemasan umat Islam setempat karena Granada menjadi pusat kegiatan
ilmiah dengan berdirinya Universitas Granada.
Suasana
ilmiah yang berkembang dengan baik di kota tersebut sangat menguntungkan bagi
Al-Syatibi dalam menuntut ilmu serta mengembangkannya di kemudian hari. Dalam
meneliti pengembangan intelektualitasnya, tokoh yang bermazhab Maliki ini
mendalami berbagai ilmu, baik yang berbentuk ‘ulum al-wasa’il (metode)
maupun ‘ulum maqashid (esensi dan hakikat). Al-Syatibi memulai aktifitas
ilmiahnya dengan belajar dan mendalami bahasa Arab dari Abu Abdillah Muhammad
ibn Fakhkarn Al-Biri, Abu Qasim Muhammad ibn Ahmad Al-Syatibi, dan Abu Ja’far
Ahmad Al-Syaqwari. Selanjutnya, ia belajar dan mendalami hadits dari Abu Qasim
ibn Bina dan Syamsuddin Al-Tilimsani ilmu kalam dan falsafah dari Abu Ali
Mansur Al-Zawawi, ilu usul fiqh dariAbu Abdillah Muhammad ibn Ahmad Al-Miqarri
dan Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad Al-Syarif Al-Tilimsani, ilmu sastra dari
Abu BakarAl-Qarsyi Al-Hasymi, serta berbagai ilmu lainnya, seperti ilmu
melakukan korespondensi untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuannya,
seperti mengirim surat kepada seorang sufi, Abu Abdillah ibn Ibad Al-Nafsi
Al-Rundi.
Meskipun
mempelajari dan mendalami berbagai ilmu,Al-Syatibi lebih berminat untuk
mempelajari bahasa Arab dan khususnya, usul fiqh. Ketertarikannya terhadap ilmu
usul fiqh karena menurutnya, metodologi dan falsafah fiqih islam merupakan
faktor yang sangat menentukan kekuatan dan kelemahan fiqih dalam menanggapi
perubahan sosial.[2]
Setelah
memperoleh ilmu pengetahuan yang memadai, Al-Syatibi mengembangkan potensi
keilmuannya dengan mengajarkan kepada para generasi berikutnya, seperti Abu
Yahya ibnAsim, Abu Bakar Al-Qadi dan Abu Abdillah Al-Bayani. Di samping itu, ia
juga mewarisi karya karya ilmiah, seperti syarh Jalil ‘ala al-Khulashah fi
al-Nahw dan Usul al-Nahw dalam bidang bahasa Arab dan al-Muwafaqat fi
Usul al-Syari’ah dan al-I’tisham dalam bidang ushul fiqih.
Al-Syatibi wafat pada tanggal 8 Sya’ban 790 H (1388 M).
Konsep Maqhasid al-Syari’ah
Sebagai
sumber utama agama Islam,Al-qur’an mengandung berbagai ajaran. Ulama membagi
kandungan Al-qur’an dalam tiga bagian besar, yaitu aqidah, akhlak dan syari’ah.
Aqidah berkaitan dengan dasar dasar keimanan, akhlaq berkaitan dengan etika dan
syari’ah berkaitan dengan aspek hukum yang muncul dari aqwal (perkataan) dan
af’al (perbuatan). Kelompok terakhir (syari’ah), dalam sistematika hokum Islam,
dibagi dalam dua hal, yakni ibadah (habl min Allah) dan muamalah (habn
min al-nas).[3]
Alquran
tidak memuat berbagai aturan yang terperinci tentang ibadah dan muamalah. Ia
hanya mengandung dasar dasar atau prinsip prinsip bagi berbagai masalah hokum
dalam Islam. Bertitik tolak dari dasar atu prinsip ini, Nabi Muhammad saw.
Menjelaskan melalui berbagai hadisnya. Kedua sumber inilah (Al-quran dan Hadis
Nabi) yang kemudian di jadikan pijakan ulama dalam mengembangkan hokum Islam,
terutama di bidang muamalah. Dalam kerangka ini, Al-Syatibi mengemukakan konsep
maqashid al-syari’ah.
Secara
bahasa, Maqhasid al-Syari’ah terdiri dari dua kata, yakni maqhasid dan
al-Syari’ah. Maqashid berarti kesengajaan atu tujuan, sedangkan al-Syari’ah
berarti jalan menuju sumber air, dapat pula dikatakan sebagai jalan kea rah
sumber pokok kehidupan.[4] Menurut istilah, Al-Syatibi menyatakan,
“Sesungguhnya
syari’ah bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatn manusia di dunia dan di
akhirat”[5]
Dari
pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa tujuan syaru\i;ah menurut Al-Syatibi
adalah kemaslahatan umat manusia. Lebih jauh, ia menyatakan bahwa tidak satu
pun hukumAllah swt. yang tidak mempunyai tujuan karena hukum yang tidak
mempunyai tujuan yang sama dengan membebankan sesuatu yang tidak dapat
dilaksanakan.[6]kemaslahatan, dalam hal ini, diartikannya sebagai
segala sesuatu yang menyangkut rezeki manusia, pemenuhan penghidupan manusia,
dan perolehan apa apa yang dituntut oleh kualitas-kualitas emosional dan
intelektualnya, dalam pengertian yang mutlak .[7]
Kewajiban-kewajiban
dalam syari’ah menyangkut perlindungan maqashid al-syari’ah yang ada pada
gilirannya bertujuan melindungi kemaslahatan manusia. Al-Syatibi menjelaskan
bahwa Syari’ah berurusan dengan perlindungan mashalih, dan dengan cara yang
positif, seperti demi menjaga eksistensi mashalih, baik syari’ah mengambil
berbagai tindakan untuk menunjang landasan-landasan mashalih; maupun dengan
cara preventif, seperti syari’ah mengambil berbagai tindakan untuk
melenyapkanunsur apa pun yang secara aktual atau potensial merusak mashalih.[8]
Pembagian Maqashid al-Syari’ah
Menurut
Al-Syatibi, kemaslahatan manusia dapat terealisasi apabila lima unsur pokok
kehidupan manusia dapat diwujudkan dan dapat dipelihara, yaitu agama, jiwa,
akal, keturunan, dan harta. Dalam kerangka ini, ia membagi maqhasid menjadi
tiga tingkatan, yaitu dharuriyat, hajiyat, dan tahsiniyat.[9]
Dharuriyat
Jenis
maqhasid ini merupakan kemestian dan landasan dalam menegakkan kesejahteraan
manusia di dunia dan di akhirat yang mencakup pemeliharaan lima unsur pokok
dalam kehidupan manusia, yakni agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Pengabaian terhadap kelima unsur pokok tersebut akan menimbulkan kerusakan
dimuka bumi serta kerugian yang nyata di akhirat kelak. Pemeliharaan terhadap
agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta dapat dilakukan dengan cara memelihara
eksistensi kelima unsur pokok tersebut dlam kehidupan manusia dan melindunginya
dari berbagai hal yang dapat merusak. Sebagai contoh, penunaian rukun Islam,
pelaksanaan kehidupan manusiawi serta larangan mencuri masing-masing merupakan
salah satu bentuk pemeliharaan eksistensi agama dan jiwa serta perlindungan
terhadap eksistensi harta.
Hajiyat
Jenis
maqashid ini dimaksudkan untuk memudahkan kehidupan, menghilangkan kesulitan
dan menjadikan pemeliharaan yang lebih baik terhadap lima unsur pokok kehidupan
manusia. Contoh jenis maqhasid ini antara lain mencakup kebolehan untuk
melaksanakan akad mudharabah, masaqat, muzara’ah dan bai salam, serta berbagai
aktivitas ekonomi lainnya yang bertujuan untuk memudahkan kehidupan atau
menghilangkan kesulitan manusia di dunia.
Tahsiniyat
Tujuannya
adalah agar manusia dapat melakukan yang terbaik untuk menyempurnakan
pemeliharaan lima unsur pokok kehidupan manusia. Ia tidak dimaksudkan untuk
menghilangkan atau mengurangi berbagai kesulitan, tetapi hanya bertindak
sebagai pelengkap, penerang dan penghias kehidupan manusia. Contoh jenis
maqashid ini antara lain mencakup kehalusan dalam berbicara dan bertindak serta
pengembangan kualitas produksi dan hasil pekerjaan.
Korelasi Antara Dharuriyat, Hajiyat dan Tahsiniyat
Dari
hasil penelaahnya secara lebih mendalam, Al-Syatibi menyimpilkan korelasi
antara dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat sebagai berikut.[10]
Maqhasid
dharuriyat merupakan dasar dari maqhasid hajiyat dan maqhasid tahsiniyat.
Kerusakan
pada maqhasid dharuriyat akan membawa kerusakan pula pada maqhasid hajiyat dan maqhasid
tahsiniyat.
Sebaliknya,
kerusakan pada maqhasid hajiyat dan maqhasid tahsiniyat tidak dapat merusak maqhasid
dharuriyat.
Kerusakan
pada maqhasid hajiyat dan maqhasid tahsiniyat yang bersifat absolute terkadang
dapat merusak maqhasid dharuriyat.
Pemeliharaan
maqhasid hajiyat dan maqhasid tahsiniyat diperlakukan demi pemeliharaan
maqhasid dharuriyat secara tepat.
Dengan
demikian, apabila dianalisis lebih jauh, dalam usaha mencapai pemeliharaan lima
unsur pokok secara sempurna, ketiga tingkat maqhasid tersebut tidak dapat
dipisahkan. Tanpaknya, bagi Al-Syatibi, tingkat hajiyat merupakan penyempurnaan
tingkat daruriyat, tingkat tahsiniyat merupakan penyempurnaan bagi tingkat
hajiyat, sedangkan dharuriyat menjadi pokok hajiyat dan tahsiniyat.
Pengklasifikasian
yang dilakukan Al-Syatibi tersebut menunjukkan betapa pentingnya pemiliharaan
lima unsur pokok itu dalam kehidupan manusia. Disamping itu, pengklasifikasian
tersebut juga mengacu pada pengembangan dan dinamika pemahaman hukum yang
diciptakan oleh Allah swt. Dalam rangka mewujudkan kemaslahatan manusia.[11]
Berkenaan
dengan hal tersebut, Mustafa Anas Zarqa menjelaskan bahwa tidak berwujudnya
aspek dharuriyat dapat merusak kehidupan manusia dunia dan akhirat secara
keseluruhan. Pengabaian terhadap aspek hajiyat tidak sampai merusak keberadaan
lima unsure pokok, tetapi hanya membawa kesulitanbagi mmanusia sebagai
mukhallaf dalam merealisasikannya. Adapun pengabaian terhadap aspek tahsiniyat
mengakibatkan upaya pemeliharaan lima unsur pokok tidak sempurna.[12] Lebih jauh, ia menyatakan segala aktivitas atau
sesuatu yang bersifat tahsiniyat harus dikesampingkan jika bertentangan dengan
maqhasid yang lebih tingggi (dharuriyat dan hajiyat).[13]
Beberapa Pandangan Al-Syatibi di bidang Ekonomi
Objek kepimilikan
Pada
dasarnya, Al-Syyatibi mengakui hak milik individu. Namun, ia menolak
kepemilikan individu terhadap setiap sumber daya yang dapat menguasai hajat
hidup orang banyak. Ia menegaskan bahwa air bukanlah objek kepemilikan dan
penggunaan tidak bisa dimiliki oleh siapapun. Dalam hal ini, ia membedakan dua
macam air, yaitu: air yang tidak dapat dijadikan senagai objek kepemilikan,
seperti air sungai dan oase; dan air yang dapat dijadikan sebagi objek
kepemilikan, seperti air yang dibeli atau termasuk bagian dari sebidang tanah
meilik individu. Lebih jauh, ia menyatakan, bahwa tidak hak kepemilikan yang
dapt diklaim terhadap sungai dikarenakan adanya pembangunan dam.[14]
2.pajak
Dalam pandangan Al-Syatibi,
pemungutan pajak harus dilihat dari sudut pandang maslahah (kepentingan umum).
Dengan mengutif para pendahulunya, seperti Al-Gazali dan Ibn Al-Fara’, ia
menyatkan bahwa pemiliharaan kepentingan umum secara esensial adalah tanggung
jawab masyarakat. Dalam kondisi tidakmam mampu melaksanakn tanggung jawab ini
masyarakat bisa mengalihkannya kepada baitul mal serta menyumbangkan sebagian
kekayaan merekasendiri untuk tujuan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah dapat
mengenakan pajak-pajak baru terhadap rakyat-rakyatnya sekalipun pajak tersebut
belum pernah dikenal dalam sejarah Islam.[15]
Wawasan Modern Teori Al-Syatibi
Dari
pemaparan konsep maqhasid Al-Syari’ah diatas, terlihat jelas bahwa syari’ah
menginginkan setiap individu memperhatikan kesejahteraan mereka. A-Syatibi
menggunakan istilah maslahah untuk menggambarkan tujuan syari’ah ini. Dengan
kata lain, manusia senantiasa dituntut untuk mencari kemaslahatan aktifitas
ekonomi produksi, konsumsi, dan pertukaran yang menyertakan kemaslahatan
seperti di definisikan syari’ah harus diikuti sebagai kewajiban agama untuk memperoleh
kebaikan di dunia dan di akhirat. Dengan demikian, seluruh aktivitas ekonomi
yang mengandung kemaslahatan bagi umat manusia disebut sebagai kebutuhan atau
(needs).[16]
Pemenuhan kebutuhan dalam pengertian
tersebut adalah tujuan aktifitas ekonomi, dan pencarian terhadap tujuan ini
adalah kewajiban agama. Dengan kata lain, manusia berkewajiban untuk memecahkan
berbagai permasalahan ekonominya. Oleh karen itu, problemmatika ekonomi manusia
dan perspektif Islam adalah pemenuhan kebutuhan (fulfillment needs)
dengan sumber daya yang tersedia.
Bila ditelaah dari sudut pandang
ilmu menejmen kontemporer, konsep maqhasid Al-Syari’ah mempunyai relevansi yang
begitu erat dengan konsep motifasi. Seperti yang telah kita kenal, konsep
motivasi lahir seiring dengan munculnya persoalan “mengapa” seseorang
berprilaku. Motovasi itu sendiri didefinisikan sebagai seluruh kondisi usaha
keras yang timbul dari dalam diri manusia yang digambarkan dengan keinginan,
hasrat, dorongan, dan senbagainya.[17]
Bila dikaitkan dengan konsep maqhasid
Al-Syari’ah, jelas bahwa, dalam pandangan Islam, motovasi manusia dalam
melakukan aktivitas ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhannya dalam arti
memperoleh kemaslahatan hidup di dunia
dan di akhirat.
Kebutuhan
yang belum terpenuhi merupakan kunci utama dalam suatu proses motivasi. Seorang
individu akan terdorong untuk berprilaku bila terdapat suatu kekurangan dalam
dirinya, baik secara psikis maupun psikologis. Mativasi itu sendiri meliputi
usaha ketekunan dan tujuan.[18]
Menuru Maslow, apabila seluruh
kebutuhan seseorang belum terpenuhi pada waktu yang bersamaan, pemenuhan
kebutuhan yang paling mendasar merupakan hal menjadi prioritas. Dengan kata
lain, seorang individu baru akan beralih untuk memenuhi kebutuhan hidup yang
lebih tinggi jika kebutuhan dasarnya telah terpenuhi. Lebih jauh, berdasarkan
konsep hierarchy of needs, ia berpendapat bahwa garis hierarkis kebutuhan
manusia berdasarkan skala prioritasnya terdiri dari:[19]
Kebutuhan
fisiolagi (fisiological needs), mencakup kebutuhan dasar manusia, seperti makan
dan minum. Jika belum terpenuhi, kebutuhan dasar ini akan menjadi prioritas
manusia dan menyamp ingkan seluruh kebutuhan hidup lainnya.
Kebutuhan
keamanan (safety needs), mencakup kebutuhan perlindungan terhadap gangguan
fisik dan kesehatan serta krisis ekonomi.
Kebutuhan
sosial (social needs), mencakup kebutuhan akan cinta, kasih sayang dan
persahabatan. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini akan mempengaruhi kesehatan jiwa
seseorang.
Kebutuhan
akan penghargaan (esteem needs), mencakup kebutuhan terhadap penghornatan dan
pengakuan diri. Pemenuhan kebutuhan ini
akan mempengaruhi rasa percaya diri dan prestise seseorang.
Kebutuhan
aktualisasi diri (self-actualization needs), mencakup kebutuhan memberdayakan
seluruh potensi dan kemampuan diri. Kebutuhan inimerupakan tingkat kebutuhan
yang paling tinggi.
Dalam
dunia manajmen kebutuhan-kebutuhan yang dikemukakan oleq maslow tersebut dapat
diaplikasikan sebagai berikiut:[20]
Pemenuhan
kebutuhan pisiologi antara lain dapat diaplikasikan dalam hal pemberian upah
atau gaji yang adil dan lingkungan kerja yang nyaman.
Pemenuhan
kebutuhan keamanan antara lain dapat diaplikasikan dalam hal pemberian
tunjangan, keamanan kerja dan lingkungan kerja yang aman.
Pemenuhan
kebutuhan sosial antara lain dapat diaplikasikan dalam hal dorongan terhadap
kerja sama, stabilitas kelompok dan kesempatan berinteraksi sosial.
Pemenuhan
kebutuhan akan penghargaan antara lain dapat diaplikasikan dalam hal
penghormatan terhadap jenis pekerjaan, signifikansi aktivitas dan pekerjaan dan
pengakuan publik terhadap performance yang baik.
Pemenuhan
kebutuhan aktualisasi diri antara lain dapat diaplikasikan dalam hal pilihan
dalam berkreatifitas dan pantangan pekerjaan.
Bila
ditelaah lebih dalam, berbagai tingkat kebutuhan yang dikemukakan oleh maslow
diatas sepenuhnya telah terakomodasi dalam konsep maqhasid A-Syari’ah bahkan,
konsep yang telah dikemukakan oleq Al-Syatibi mempunyai keunggulan komparatif yang
sangat signifikan, yakni menempatkan agama sebagi faktor utama dalam elemen
kebutuhan dasar manusia, satu hal yang luput dari perhatian maslow. Seperti
yang telah dimaklumi bersama, agama merupakan fitrah manusia dan menjadi factor
penentu dalam mengarahkan kehidupan umat manusia di dunia ini.
Dalam
persfektif Islam, berpijak pada doktri keagamaan yang menyatakan bahwa
pemenuhan kebutuhan hidup manusia dalam rangka memperolah kemaslahatan di dunia
dan di akhirat merupakan bagian dari kewajiban agama, manusia akan termotifasi
untuk selalu berkreasi dan bekerja keras. Hal ini, pada akhirnya, tentu akan
meningkatkan produktifitas kerja dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
… PEMIKIRAN EKONOMI AL-MAQRIZI
…
Riwayat hidup A-Maqrizi
Nama
lengkap Al-Maqrizi adalah Taqiyuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Ali bin Abdul Qadir
Al-Husaini. Ia lahir di desaa Barjuwan, Kairo, pada tahun 766 H (1364-1365M).
keluarganya berasal dari Maqarizah, sebuah desa yang terletak di kota Ba’labak.
Oleh karena itu, ia cenderung dikenal sebagai Al-Maqrizi.
Kondisi
ekonomi ayahnya yang lemah menyebabkan pendidikan masa kecil dan remaja
Al-Maqrizi berada di bawah tanggungan kakeknya dari pihak ibu, Hanafi ibn
Sa’igh, seorang penganut mazhab Hanafi. Al-Maqrizi muda pun tumbuh baedasarkan
pendidikan mazhab ini. Setelah kakeknya meninggal dunia pada tahun 786 H (1384
M), Al-MAqrizi beralih kemazhab ke mazhab syafi’i. bahkan, dalam perkembangan,
pemikirannya, ia terlihat cenderung menganut mazhab Zhahiri.[21]
Ketika
berusia 22 tahun, Al-Maqrizi mulai terlibat dalam berbagi tugas pemerintahan
dinasti mamluk. Pada tahun 788 H (1386 M), Al-Maqrizi memulai kiprahnya sebagai
pegawai didiwan Al-Insya’, semacam sekretariat Negara. Kemudian, ia diangkat
menjadi wakil qhadi pada kantor hakim agung mazhab syafi’I, hatib di masjid
jami’ amr dan madrasah Al-sultan Hasan, imam masjid jami Al-Hakim, dan guru
hadis dimadrasah di Al-Muayyadah.[22]
Pada
tahun 791 H (1389 M), sultan Barkuq mengangkat Al-Maqrizi sebagai muhtasib
dikairo. Jabatan tersebut di embannya selama 2 tahun. Pada masa ini Al-Maqrizi
mulai banyak bersentuhan dengan berbagai permasalahan pasar, pedagangan, dan
mudharabah, sehingga perhatiaanya terpokus pada harga-harga yang berlaku, asal
usul uang, dan kaidah-kaidah timbangan.
Pada
tahun 811H (1408 M), Al-Maqrizi diangkat sebagai pelaksana administrasi wakaf di
Qalanisiyah, sambil bekerja dirumah sakit Annuri, damaskus. Pada tahun yang
sama ia menjadi guru hadis dimadrasah kemudian, sultan Al-Malik Al-Mashir faraj
bin Barkuk (1399-1412 M) menawarinya jabatan wakil pemerintah dinasti mamluk
didamaskus. Namun, tawaran ini ditolak
Al-Maqrizi.[23]
Setelah
sekitar 10 tahun menetap didamaskus, Al-Maqrizi kembali ke Kairo. Sejak itu, ia
mengundurkan diri sebagai pegawai pemerintahdan menghabiskan waktunya untuk
ilmu. Pada tahun 834 H (1430 M), ia bersama keluarganya menunaikan ibadah haji
dan bermukim di makkah selama beberapa waktu untuk menuntut ilmu serta
mengajarkan hadis dan menulis sejarah.
Lima
tahun kemudian, Al-Maqrizi kembali ke kampung halamannya barjuwan, kairo.
Disini,ia juga aktif mengajar dan menulis, turutama sejarah Islam, hingga
terkenal sebagai seorang sejarawan besar pada abad ke-9 H. Al-Maqrizi meninggal
dunia pada tanggal 27 Ramadhan 845 H atau bertepatan dengan 9 februari 1442 M.[24]
Pemikiran ekonomi Al-Maqrizi
Al-Maqrizi
berada pada fase kedua dalam sejarah pemikiran ekonomi Islam, sebuah fase yang
memulai terlihat tanda-tanda melambatnya berbagai kegiatan intelektualn yang
inovatif dalam dunia Islam. Latar belakang kehidupan Al-Maqrizi yang bukan
orang sufi atau filosop dan relatiif didominasi oleh aktifitasnya sebagai
sejarawan muslim sangat mempengaruhi cara pemikirannya tentang ekonomi. Ia
senantiasa melihat setiap persoalan dengan flashback dan mencoba memotret apa
adanya mengenai fenomena ekonomi suatu Negara dan mempokuskan perhatiannya pada
beberapa hal yang mempengaruhinaik turunnya suatu pemerintahan. Hal ini berarti
bahwa pemikiran-pemikiran ekonomi Al-Maqrizi cendrung positif, satu hal yang
unik dan menarik pada fase kedua yang notabebe didominasi oleh pemikiran yang
normative.
Al-Maqrizi
merupakan pemikir ekonomi Islam yang melakukan studi khusus tentang “uang dan
inflasi”.[25] Focus perhatian Al-Maqrizi terhadap dua aspek yang
dimasa pemerintahan Rasulullah dan Ak-Khulafa Arrasyidun tidak menimbulkan
masalah ini, tampaknya, dilatarelakangi oleh semakin banyaknya penyimpangan
nilai-nilai Islam, terutama dalam kedua aspek tersebut, yang dilakukan oleh
kepala pemerintahan bani Umayyah dan selanjutnya.[26]
konsep uang
Sebagai seorang sejarawan,
Al-Maqrizi mengemukakan beberapa pemikiran tentang uang melalui penelaahan
sejarah mata uang yang digunakan oleah umat manusia. Pemikirannya ini meliputi
sejarah dan fungsi uang, inflikasi penciptaan mata uang buruk, dan daya bli
uang.
Sejarah
dan fungsi uang
Bagi
Al-Maqrizi, mata uang mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehiduupan
umat manusia karena, dengan menggunakan uang, manusia dapat memenuhi kebutuhan
hidup serta memperlancar aktivitas kehidupannya. Oleh karena itu, untuk
membuktikan validitas premisenya terhadap permasalahan ini, ia mengungkapkan
sejarah penggunaan mata uang oleh umat manusia, sejak masa lalu kala hingga
masa hidupnya yang berada di bawah pemerintahan dinasti mamluk.
Menurut Al-Maqrizi, baik pada masa
sebelum maupun setelah kedatangan Islam, mata uang digunakan oleh umat manusia
untuk menentukan berbagai harga barang dan biaya tenaga kerja. Untuk mencapai
tujuan ini, mata uang yang dipakai hanya terdiri dari emas dan perak.[27]
Dalam sejarah perkembangannya, Al-Maqrizi
menguraikan bahwa Bangsa Arab jahiliyah menggunakan dinar emas dan dirham perak
sebagai mata uang mereka yang masing-masing diadopsi dari Romawi dan Persia
serta mempunyai bobot dua kali lebih berat dimasa Islam.[28] Setelah Islam datang, Rasulullah saw menetapkan
berbagai praktik muamalah yang menggunakan kedua mata uang tersebut, bahkan
mengaitkannya dengan hokum zakat harta.[29] Penggunaan kedua mata uang ini terus berlanjut tanpa
perubahan sedikitpun hingga tahun 18 H ketika Khalifah Umar ibn Al-Khattab
menambahkan lafaz-lafaz Islam pada kedua mata uang tersebut.[30]
Perubahanyang
sangat signifikan terhadap mata uang ini terjadi pada tahun 76 H. setelah
berhasil menciptakan stabilitas politik dan keamanan, khalifah Abdul Malik ibn
Marwan melakukan reformasi moneter dengan mencetak dinar dan dirham Islam.[31] Penggunaan kedua mata uang ini terus berlanjut, tanpa
perubahan yang berarti, hingga pemerintah Al-Mu’thasim, khalifah terakhir
dinasti Abbasyiah.
Dalam
pandangan Al-Maqrizi,kekacauan mulai terlihat ketika pengaruh kaum
mamluksemakin kuat di kalangan istana,termasuk terhadap kebajikan pencetakan
mata uang dirham campuran.[32]pencetakan fulus,mata uang yang tercabut dari
tembaga,dimulai pada masa pemerintahaan dinasti ayyubiyah,sultan Muhammad
Al-kamil ibn Al-adil Al-ayyubi,yang dimaksudkan sebagai alat tukar terhadap
barang-barang yang tidak signifikan dengan rasio 48 fulus untuk setiap
dirham-nya.[33]
Pasca
pemerintahan sultan Al-kamil,pencetakan mata uang tersebut terus berlanjut
hingga pejabat di tingkat provinsi terpengaruh laba yang besar dari aktivitas
ini.kebijakan sepihak mulai di terapkan dengan meningkatkan volume pencetakan
fulus dan menetapkan rasio 24 fulus per dirham.akibatnya,rakyat menderita
kerugian besar karena barang-barang yang dahulu berharga ½ dirham sekarang
menjadi 1 dirham.[34]keadaan ini semakin memburuk ketika aktivitas
pencetakan fulus meluas pada masa pemerintahan sultan Al-adil kitbugha dan
sultan Al-zahir barquq yang mengakibatkan penurunan nilai mata uang dan
kelangkaan barang-barang.[35]
Berbagai
fakta sejarah tersebut,menurut Al-maqrizi,mengindikasikan bahwa mata uang yang
dapat diterima sebagai standar
nilai,baik menurut hokum,logika,maupun tradisi,hanya yang terdiri dari emas dan
perak.oleh karena itu,mata uang yang menggunakan bahan selain kedua logam ini
tidak layak disebut sebagai mata uang.[36]
Lebih
lanjut,ia menyatakan bahwa keberadaan fulus tetap diperlukan sebagai alat tukar
terhadap barang-barang yang tidak signifikan dan untuk berbagai biaya kebutuhan
rumah tangga sehari-hari.[37]dengan kata lain,penggunaan fulus hanya diizinkan
dalam bebagai trnsaksi yang berskla kecil.
Sementara
itu,menekankan urgensi penggunaan kembali mata uang yang terdiri emas dan
perak,Al-Maqrizi menyadari bahwa uang merupakan satu-satunya faktor yang
memengaruhi kenaikan harga-harga.Menurytnya,penggunaan mata uang emas dan perak
tidak serta merata menghilangkan inflasi dalam perekonomian karena inflasi juga
dapat terjadi akibat faktor alam dan tindakan sewenang-wenang dari penguasa.[38]
Implikasi
Penciptaan Mata Uang Buruk
Al-Maqrizi menyatakan bahwa
penciptaan mata uang dengan kualitas yang buruk akan melenyapkan mata uang yang
berkualitas baik.[39]hal ini terlihat jelas ketika ia menguraikan situasi
moneter pada tahun 569 H. Pada masa pemerintahan sultan salahuddin Al-ayyubi
ini,mata uang yang dicetak mempunyai kualitas yang sangat rendah di bandingkan
dengan mata uang yang telah ada diperedaran.Dalam menghadapi kenyataan
tersebut,masyarakat akan lebih memilih untuk menyimpan mata uang yang
berkualitas baik dan meleburnya menjadi perhiasan serta melepaskan mata uang yang
berkualitas buruk kedalam peredaran.akibatnya, mata uang lama keluar dari
peredaran.
Menurut Al-maqrizi, hal trsebut juga
tidak terlepas dari pengaruh pergantiaan penguas dan dinasti yang masing-masing
menerapkan kebijakan yang berbeda dalam pencetakan bentuk serta nilai diham dan
dinar. Sebagai contoh,jenis dirham yang telah ada dirubah hanya untuk
merefleksikan penguasa pada saat itu. Dalam kasus yang lain,terdapat beberapa
perubahan tambahan pada komposisi logam yang membentuk dinar dan dirham.[40] Konsekwensinya,terjadi ketidak seimbangan dalam
kehidupan ekonomi ketika persediaan logam bahan mata uang tidak mencukupi untuk
memproduksi sejumlah unit mata uang. begitu pula halnya ketika harga emas atau
perak mengalami penurunan.[41]
Konsep
Daya Beli Uang
Menurut Al-maqrizi, pencetakan mata
uang harus disertai dengan perhatian yang lebih besar dari pemerintah untuk
menggunakan mata uang tersebut dalam bisnis selanjutnya. Pengabaiain terhadap
hal ini, sehingga terjadi peningkatan yang tidak seimbang dalam pencetakan uang
dengan aktifitas produksi dapat menyebabkn daya beli riil uang mengalami
penurunan.[42]
Dalam hal yang demikian,Al-Maqrizi
memperingatkan para pedagang agar tidak terpukau dengan peningkatan laba
nominal mereka. Menurutnya, mereka akan menyadari hal tersebut ketika
membelanjakan sejumlah uang yang lebih besar untuk berbagai macam pengeluaranya.
Dengan kata lain, seorang pedagang dapat terlihat memperoleh keuntugan yang
lebih besar sebagai seorang produsen. Namun, sebagai seorang konsumen, ia akan
menyadari bahwa dirinya tidak memperoleh keuntugan sama sekali.[43]
2. Teori Inflasi
a.
Inflasi alamiah
Inflasi jenis ini disebabkan oleh
bebagai faktor alamiah yang tidak bisa dihindari umat mausia. Menurut
Al-Maqrizi, ketika suatu bencana alam tejadi, bebagai bahan makanan dan hsil
bumi lainnya mengalami gagal panen, sehingga persedian barang-barang tersebut
mengalami penurunan yang sangat drastis dan terjadi kelangkaan. Karena sifatnya
yang sangat signifikan dalam kehidupan, permintaan terhadap berbagai barang itu
mengalami peningkatan. Harga-harga membumbung tinggi jauh melebihi daya beli
masyarakat. Hal ini sangat berinflikasi terhadap kenaikan harga berbagai barang
dan jasa lainnya. Akibatnya, trnsaksi ekonomi mengalami kemacetan, bahkan
berhenti sama sekali, yang pada akhirnya menimbulkan bencana kelaparan, wabah
penyakit, dan kematian di kalangan masyarakat. Keadaan yang semakin memburuk
tersebut memaksa rakyat untuk menekan pemerintah agar segera memperhatikan
keadaan mereka. Untuk menanggulangi bencana itu, pemerintah mengeluarkan
sejumlah besar dana yang mengakibtkan perbendaharaan Negara mengalami penurunan
drastis karena, disisi lain, pemerintah tidak memperoleh pemasukan yang
berarti. Dengan kata lain, pemerintah mengalami defisit angaran dan Negara,
baik secara politik, ekonomi, maupun sosial, menjadi tidak stabil yang kemudian
menyebabkan keruntuhan sebuah pemerintahan.[44] Sekalipun suatu bencana telah berlalu, kenaikan
harga-harga tetap berlangsung. Hal ini merupakan inflikasi dari bencana alam
sebelumnya yang mengakibatkan aktivitas ekonomi, terutama disektor produksi
mengalami kemacetan. Ketika situasi telah normal, persedian barang-barang yang
signifikan, seperti benih padi,tetap tidak beranjak naik, bahkan tetap langka,
sedangkan permintaan terhadapnya meningkat tajam. Akibatnya, harga
barang-barang ini mengalami kenaikan yang kemudian di ikuti oleh kenaikan harga
berbagai jenis barang dan jasa lainnya, termasuk upah dan gaji para pekerja.[45]
b.
Imflasi Karena Kesalahan Manusia
1.
Korupsi dan Administrasi yang buruk
Al-Maqrizi menyatakan bahwa
pengangkatan para pejabat pemerintah yang berdasarkan pemberian suap, dan bukan
kabilitas, akan menempatkan orang-orang yang tidak mempunyai kredibilitas pada
berbagai jabatan penting dan terhomat, baik dikalangan legislatife, yudikatif,
maupun eksekutif. Mereka rela menggadaikan seluruh harta miliknya sebagai
konpensasi untuk meraih jabatan yang diinginkan serta kebutuhan sehari-hari
sebagai pejabat. Akibatnya para pejabat pemerintahan tidak lagi bebas dari
intervensi dan intik para kroni istana. Mereka tidak hanya mungkin disingkirkan
setiap saat tetapi disita kekayaanya,bahkan dieksekusi. Kondisi ini selanjutnya
sangat mempengaruhi moral dan efisiensi administrasi sipil dan militer. Ketika
berkuas, para pejabat tersebut mulai menyalahgunakan kekuasaan untuk meraih
kepentingan pribadi, baik untuk memenuhi kewajiban finansialnya maupun
kemewahan hidup. Merka berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan
menghalalkan segala cara. Merajalelanya ketidakadilan para pejabat tersebut
telah membuat kondisi rakyat semakin memprihatinkan, sehingga mereka terpaksa
meningggalkan kampung halaman dan pekerjaanya. Akibatnya, terjdi penurunan drastis
jumlah penduduk dan tenaga kerja serta hasil-hasil produksi yang sangat
berimplikasi terhadap penurunan penerimaan pajak dan pendapatan Negara.[46]
Pajak
Yang Berlebihan
Menurut
Al-maqrizi, akibat dominasi para pejabat bemental korup dalam suatu pemerintahan,
pengeluaran Negara mengalami peningkatan yang sangat drastis. Sebagai
konpensasinya, mereka menerapkan sistem perpajekan yang menindas rakyat dengan
memberlakukan bebagai pajak baruserta menaikan tingkat pajak yang telah ada.
Hal ini sanagat mempengaruhi kondisi para petani yang merupakan kelompok mayoritas dalam masyarakat. Para pemilik tanah
yang ingin selalu berada dalam kesenangan akan melimpahkan beban pajak kepada
para petani melalui peningkatan biaya sewa tanah. Karena tertarik dengan hasil
pajak yang sanagat menjanjikan, tekanan para pejabat dan pemilik tanah terhadap
para petani menjdi lebih besar dan intensif. Frekwensi berbagai pajak untuk
pemeliharaan bendungan dan pekerjaan-pekerjaan yang serupa semakin meningkat.
Konsekwensinya, biaya-biaya untuk penggarapan tanah, penaburan benih, pemungutan
hasil panen, dan sebagainya meningkat. Dengan kata lain, panen padi yang di
hasilkan pada kondisi ini membutuhkan biaya yang lebih besar hingga melebihi
jangkauan para petani. Kenaikan harga-harga tersebut, terutama benih padi,
hamper mustahil mengalami penurunan karena sabagian besar benih padi dimiliki
oleh para pejabat yang sangat haus kekayaan akibatnya, para petani kehilangan
motivasi untuk bekerja dan memproduksi. Mereka lebih memilih meninggalkan
tempat tinggal dan pekerjaanya dari pada selalu hidup dalam penderitaan untuk
kemudian menjadi pengembara didaerah-daerah pedalaman. Dengan demikian, terjadi
penurunan jumlah tenaga kerja dan peningkatan lahan tidur yang akan sanagat
mempengaruhi tingkat hasil produksi padi serta hasil bumi lainya dan pada
akhirnya, menimbulkan kelangkaan bahan makanan serta meningkatnya harga-harga.[47]
Peningkatan
Sirkulasi Mata Uang Fulus
Keadaan
ini, menempatkan fulus sebagai standar nilai bagi sebagian besar barang dan
jasa. Kebijakan pencetakan fulus secara besar-besaran, menurut Al-Maqrizi,
sangat mempengaruhi penurunan nilai mata uang secara drastic. Akibatnya, uang
tidak lagi bernilai dan harga membumbung tinggi. Yang pada gilirannya
menimbulkan kelangkaan bahan makanan.[48]
Wawasan Modern Teori Al-Maqrizi
Ekonomi modern di barat
pada umumnya membagi penyebab inflasi menjadi dua yaitu cos-push inflation dan
demand-pull inflation tanpak bahwa Al-Maqrizi lebih memahami apa yang
sebenarnya mengakibatkan inflasi karena baik inflasi yang disebabkan oleh
sebab-sebab alamiah maupun inflasi karena ulah kesalahan manusia keduanya dapat
berbentuk cos-push maupun demand-pull.
Abdul
Aziz Dahlah. Suplemen Ensiklopedi Islam. (Jakarta: PT Ichtiar Baru van
Hoeve, 1996). jilid 2.
Muhammad
Khalid Mas’ud. Filsafat Hukum Islam: studiFilsafat Hukum Islam: Studi tentang Hidup dan Pemikiran al-Syatibi. (Bandung:
penerbit pustaka,1996), Cet. Ke-1.
Al-Syatibi.
al-Muafaqat fi Ushulal-Syari’ah. (Kairo: Musthafa Muhammad), jilid 2.
Asafri
Jaya Bakri. Konsep Maqhasid Syari’ah Menurut al-Syatibi. (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 1996), Cet. Ke-1
Adiwarman
Azar Karim. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer. (Jakarta: Gema
Insani Press,2001), Cet.ke-1.
Adiwarman
Azwar Karim. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2004)
[1]
Sekalipun namanya dinisbatkan ke daerah ini, Imam Al-Syatibi tidak dilahirkan
di sana. Menurut catatan sejarah, kota Syatibah telah jatuh ketangan Kristen
yang mengakibatkan terusirnya seluruh penduduk Muslim dari kota itu sejak tahun
645 H (1247), sekitar satu abad sebelum kelahiran Imam Al-Syatibi, dan sebagian
besar diantaranya berhijrah ke Granada. Abdul Aziz Dahlah, et.al.,Suplemen
Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve1996), jilid 2,
hlm.187.
[2]
Muhammad Khalid Mas’ud, Filsafat Hukum Islam: studiFilsafat Hukum Islam:
Studi tentang Hidup dan Pemikiran
al-Syatibi, (Bandung: penerbit pustaka,1996), Cet. Ke-1, hlm.111.
[3]
Abdul Wahab Khalla, ‘Ilm Usul Fiqh, (Kairo: Dar al-Kuwaitiyah,1968),
hlm.32.
[4]
Fazlurrahman, Islam, (Bandung: Penerbit Pustaka,1984), hlm.140.
[5]
Al-Syatibi, al-Muafaqat fi Ushulal-Syari’ah, (Kairo: Musthafa Muhammad),
jilid 2, hlm.3Muhammad), jilid 2, hlm.374
[6] Ibid.,
Jilid 1, hlm. 150
[7] Ibid.,
Jilid 2, hlm. 25.
[8] Ibid.,
hlm. 8.
[9] Ibid.
[10] Ibid.,
hlm16-17
[11] Asafri
Jaya Bakri , Konsep Maqhasid Syari’ah Menurut al-Syatibi, (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 1996), Cet. Ke-1 hlm.73
[12] Mustafa
Anas Zarqa, Islamic Economics: an Approach to Human Welfare, dalam aidit
Ghazali dan syed Omar (ed), Reading in the Concept and Methodology of
Islamic Economics, (Selangor Darul Ehsan: Pelanduk Publication, 1989), hlm.
35-36.
[13] Ibid.,
hlm.38.
[15] Ibid.,
138-139.
[16]
M. Fahim Khan, Shantibi’s Objektives of shari’ah and Some Implication for
Consumer Theory, dalam Abul Hasan M. Sadeq dan Aidit Ghazali (ed), Reading
in Islamic Thought, hlm. 193.
[17]
James H.Donelly, James L. Gibson dan John M. Ivancevich, Fundamentals of
Management, (New York: Irwin McGraw-Hill, 1998), hlm.267.
[18] Ibid.,
hlm. 268.
[19] Ibid.,
hlm. 270-271.
[20] Ibid.,
hlm.274.
[21]
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Suplemen Ensiklopedi Islam, (akarta: PT
Ichtiar Baru Van Hoeve,1999), jilid 2, hlm.42.
[22] Jamaliddin
Al-Syayyal, Pengantar Al-Muhaqqiq, dalam Taqiyuddin Ahmad bin Ali Al-Maqrizi, Itti’azh
Al-Hunafa bi Akhbar Al-Aimmah Al-Fathimiyyin Al-Khulafa, (Kairo: Lajnah
Ihya Al-Turats Al-Islamy,1967), hlm.11-12.
[23] Hammdbin
Abdurrahman Al-Janidal, loc.cit.
[24]
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, loc. Cit.
[25]
M.Nejatullah Siddiqi, Recent Workss on History of Economic Thought in Islam:
A Survey, op.cit., hlm. 50.
[26]
Adiwarman Azar Karim, Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer, (Jakarta:
Gema Insani Press,2001), Cet.ke-1, hlm. 67.
[27] Al-Maqrizi,
Al-Nuqud Al-Qadimah Al-Islamiyah, dalam Al-Abb Al-Insitas Al-Karmali
(ed.), Kitab al-Nuqud al-‘Arabiyahwa al-Islamiyah wa ‘Ilm al-Namyat, (Kairo:
Maktabah Al-Tsaqafah Al-Diniyah,1986), Cet. Ke-2, hlm. 73.
[28] Ibid.,
hhlm. 28-30.
[29] Ibid.,
hlm. 35.
[30] Ibid.,
hlm. 37-38.
[31] Ibid.,
hlm. 40.
[32] Ibid.,
hlm. 57.
[33] Al-Maqrizi,
Ighatsah Al-Ummah bi Kasyf Al-Ghummah, op.cit., hlm. 68-70.
[34] Ibid.,
hlm. 70.
[35] Ibid.,
hlm. 71-72
[36] Ibid.,
hlm.80.
[37] Al-Maqrizi,
al-Nuqud al-Qadimah al-Islamiyah, op.cit., hlm., 76.
[38] Al-Maqrizi,
Ighatsah al-Ummah bi Kasyf al-Ghummah, op.cit. hlm.83.
[39] Al-Maqrizi,
al-Nuqud al-Qadimah al-Islamiyah, op.cit. hlm.66.
[40] Ibid.,
hlm. 66-67
[41] Ibid.,
hlm.67-68.
[42] Aidit
Ghazali, Islamic Thinkers on Economic, Administration, dan Transaction, (Kuala
Lumpur: Quill Publisher, 1991), Vol. 1, hlm. 159.
[43] Ibid.
[45] Ibid.,
hlm. 50-51.
[46]
Ibid., hlm. 52-53.
[47] Ibid.,
hlm. 53-54
[48] Ibid.,
hlm.72