Santri Ponpes Darul Hikmah dalam Aksi Super Damai 212

Minggu, 13 Agustus 2017
Posted by Unknown

01 LASKAR CHENG HOO

Senin, 02 Mei 2016
Posted by Unknown
Siang sabtu selepas kuliah saya langsung pulang menuju kos di dasan agung, hari itu menjadi hari yang tidak biasa karena biasanya selepas kuliah saya menyempatkan diri untuk mengobrol dan bercanda dengan teman teman kampus barang lima sampai sepuluh menit sebelum akhirnya kami pulang bersama-sama. Sampai di kos saya langsung rebahkan badan diatas kasur kusut dibalut kain warna putih bercorak bunga mawar.
Siang itu kakak misan saya yang menjadi teman kos tidak ada disana karena mungkin sedang berada dikos temannya, maklum saja dia sudah semester akhir dan sedang menyusun skripsi sehingga minggu-minggu ini dia jarang kelihatan di kos sehingga saya sering tidur sendirian di kamar kos yang berukuran 4X5 itu.
Belum lama badan saya berbaring melepas lelah, tiba tiba  handphone saya berdering tanda panggilan masuk, segera saya raih tas yang dari awal masuk kos saya taruh diatas lemari mebel berwarna cokelat karena hape saya taruh di tas dan belum sempat mengeluarkannya. Saya perhatikan layar hape dengan cermat ternyata yang menghubungi nomor baru, dalam benak saya bergumam “ siapa gerangan orang yang memanggil ini” tanpa berpikir panjang saya tekan tombol warna hijau tanda menerima obrolan siang itu.
“Assalamualakum warahmatullahiwabarkatuh” dia mengucap salam dengan nada khasnya, tanpa bertanya saya sudah bisa menebak siapa gerangan orang ini, ya dia adalah salah satu guru inspirator dan mentor yang semenjak duduk dibangku Aliyah, saya banyak belajar darinya, belum sempat saya balas salamnya dia sudah kembali menyapa “ Hai Boy..! Apa Kabar” saya semakin yakin dengan tebakan saya, karena hanya beliau yang selama ini memanggil saya Boy.
Ya dia adalah Mr. Samsul Hakim, guru qur’an hadist yang kesehariannya hobi berkebun, menembak dan mancing tanpa umpan, jika beliau tidak ada jam mengajar dipesantren, beliau akan lebih memilih menghabiskan waktunya dikebun bercocok tanam lalu malamnya menyusuri sungai dan perkebunan masyarakat dengan senapan angin dipundaknya  guna berburu.
“Waalaikumsalam Wr. Wb, Alhamdulillah baik ust” jawab saya singkat, lalu beliau melanjutkan maksud dan tujuannya menelpon saya, “ Begini Boy, di Darul Hikmah kita sedang ada program English camp yang diikuti oleh anak kelas Lima, mereka ini santri kelas lima yang tidak bisa ikut pergi ke pare bersama teman temanya untuk kursus bahasa inggris karena beberapa alasan, nah agar mereka memiliki kesetaraan skill dalam bahasa inggris dengan teman temannya yang pergi kepare, saya mengusulkan agar mereka difokuskan belajar bahasa inggrisnya di darul hikmah.” Siang menjelang sore itu tiba tiba beliau menjadi sangat vokal persis seperti dosen yang sedang menjelaskan materi kuliah marketing, karena setahu saya beliau adalah guru yang jarang sekali ngomong apabila itu tidak penting, lebih lebih melalui handphone. Saya terus tetap menyimak penjelasannya hingga ia benar benar selesai bahkan saya tidak diberikan kesempatan untuk berkomentar.
Karena mungkin beliau merasa penjelasannya cukup, lalu beliau menyuruh saya agar sesekali main main ketempat kursus dan jika dirasa nyaman bisa langsung ikut nimbrung di sana biar kuliah lewat sini saja. Waktu itu saya tidak langsung mengiyakan karena harus memintak izin terlebih dahulu ke kakak misan teman kos saya, karena bagaimanapun juga dia adalah orang tua saya di kos itu. Suara speaker masjid perlahan mulai terdengar pertanda waktu ashar segera tiba, kamipun menyelesaikan obrolan itu sambil mengucap “insyallah kapan kapan saya main ke sana tad,” lalu mengucap salam untuknya.
sehari setelah percakapan saya dengan Mr. Samuel (panggilan Populernya di pesantren Nurul Haramain) saya cerita sekaligus mintak pendapat sama kakak saya tentang obrolan tempo hari perihal kursus dan bila merasa nyaman saya akan menetap tinggal disana sampai programnya selesai. Tanpa terlihat ragu di wajahnya dia sangat mendukung dan mengapresiasi apapun rencana saya.
***
Hari senin minggu itu, kuliah saya kosong, bukan karena senin tidak ada jadwal, hanya saja dosen yang mengajar hari senin minggu itu sedang keluar kota untuk kepentingan kampus. Memanfaatkan hari libur itu, sayapun siap-siap menuju tempat kursusannya Mr. Samuel.
Pagi senin itu menjadi langkah pertama saya menginjakkan kaki ditempat yang nanti orang orang menyebutnya kampung naga. Sepanjang perjalanan, dalam bayangan saya tempat itu mewah dengan fasilitas lengkap, memiliki gerbang dengan tembok penyekat yang kokoh. Ternyata pada kenyataannya tempat itu sederhana bahkan sangat sederhana, tidak ada tembok tidak ada gerbang tidak ada pula bangunan permanen yang bisa tempati hanya ada barisan tiang tiang beton besar nan kokoh menjulang tinggi menandakan suatu saat nanti tempat ini akan memiliki bangunan berlantai.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dari mataram akhirnya tiba juga di didesa tanak beak. Motor yang dari tadi saya kendarai dengan kecepatan tinggi kini ampernya perlahan mulai turun dengan kecepatan rendah, sambil meraba setiap sudut berharap tempat itu segera saya temukan, karena sebelumnya saya tidak tahu persis lokasi yang dimaksud Mr Samuel dan hanya memberikan informasi bahwa tempat itu berada persis di pinggir utara jalan, tengah sawah dan hanya satu-satunya bangunan yang ada disekitaran itu.
Dari plang yang bertuliskan selamat datang didesa tanak beak, mata mulai melirik arah kiri kanan takut tempat itu terlewatkan, tak mempedulikan setiap pengendara motor yang berlalu lalang menyalip dari tadi, bahkan beberapa  pengendara sepeda motor membunyikan klakson cukup keras memintak izin untuk menyalip, namun tak saya hiraukan, dan masih tetap mengarahkan mata kearah utara jalan seperti yang diinformasikan.
Tak lama kemudian terlihat dari kejauhan sebuah bangunan tanpa atap, hanya ada deretan tiang tiang beton yang cukup besar dengan ruangan Bdek sederhana disampingnya. Dalam hati saya cukup yakin bahwa tempat itulah yang saya cari.
Sesampai disana saya menjadi tak begitu yakin  bahwa tempat itu yang dimaksud Mr. Samuel, sayapun memberhentikan motor yang saya kendarai lalu mengambil ponsel di kantong celana sebelah kiri dan mencari kontak Mr. Samuel lalu memanggilnya. “Assalmualkum sir saya sudah ditanak beak pinggir jalan tengah sawah, apa benar ini lokasi yang antum maksud” pertanyaan saya yang panjang dan kurang yakin sudah sampai dilokasi membuat dia ketawa seolah berkata, kenapa,? Lokasinya tidak sesuai dengan bayanganmu? Ya inilah lokasinya, beginilah suasananya..!
Belum lama kami bercakap-cakap beliau tiba-tiba muncul dari gerbang melambaikan tangan mengisyaratkan agar saya segera masuk. Saya kini menjadi yakin, tempatnya tidak salah, yang salah bayangan saya yang mendiskripsikan tempat itu seperti tempat kursus di kota kota pada umumnya.
Ditempat itu dan pada pertemuan itu, menjadi pertemuan pertama kali saya dengan beliau setelah hampir satu tahun tidak bertemu kembali semenjak keluar dari pondok. Saya rasanya tidak sabar ingin menjambat tangat kasarnya, sehingga motor belum terparkir dengan rapi saya sudah menjulurkan tangan dan mencium rindu telapak tangan mengharap barokah darinya.
Hari itu begitu cepat berlalu, Jam menunjukan pukul lima sore, tidak terasa sudah seharian ngobrol dengan beliau, saat itu saya putuskan untuk tidak menginap disana karena besok ada jam kuliah pagi, ditambah lagi tidak adanya pakian yang saya bawa. Saya pamit dan menjabat tangannya erat sekali seolah esok tak akan berjumpa kembali. Sebelum menghidupkan motor, beliau setengah berbisik agar besok-besok saya bisa datang kembali dan berharap ikut nimbrung di sana. “nggeh tad insyallah” kataku sambil berlalu meninggalkan tempat itu.
***
Keputusan akan meningglkan kakak misan sendirian dan kontrakan kos yang masih tersisa enam bulan lagi menjadi dilema tersendiri, bingung mau pilih yang mana, di satu sisi makan saya mungkin akan terjamin kalau tinggal di tempat kursus yang dimaksud Mr. Samuel, tapi jarak tempuh kuliah dengan tempat kursus menjadi pertimbangan, apakah saya akan benar benar bisa melewati semuanya setelah nanti berada di tempat kursus.
Seperti biasa ibu kos akan membersihkan halaman kos setiap pagi seusai shalat subuh, dan menyapa setiap anak kos yang bangun pagi untuk melaksanakan shalat subuh, minimal bertanya gimana tidurnya?, semalam banyak nyamuk tidak?. Pertanyaan seperti itu yang membuat saya merasa bahwa beliau adalah ibu saya, dan memang pada kenyataannya beliaulah ibu setiap anak kos yang ada disana. Tapi kadang kebanyakan merasa bahwa ibu kos adalah Pol. PP, karena setiap pulang telat dari biasanya, mereka akan ditanya, udah kemana, kok pulangnya jam seginian? Atau ketika bangun pagi, sedang matahari sudah cukup tinggi, sudah shalat subuh belum?. Pertanyaan seperti itu bagi mereka sangat menjengkelkan, mereka seolah mengatakan, jangan pedulikan apapun yang kami kerjakan, biarkan kami bebas karena kami sudah dewasa, kami tahu mana yang harus kami lakukan.
Kesadaran mereka akan esensi ibu kos itulah yang membuat sebagian merasa bahwa bertemu ibu kos itu tidak mengasyikan tak seperti bertemu teman teman waktu dikampus. Bagi saya ibu kos dan teman teman kampus sama saja, sama sama asyik, permasalahannya adalah kita tidak menikmati saja.
Selesai shalat subuh saya membersihkan ruangan luar tempat sepeda motor dan masak, karena kos itu memilki dua ruangan. Ruang dalam untuk tidur dan belajar, sedang ruang luar untuk parkir motor waktu malam dan masak. Setelah semua terlihat bersih saya keluar dan menemukan ibu kos masih sibuk dengan daun daun mangga yang rimbun didepan kontrakan kos. Dengan nada bercanda saya sapa ibu kos dengan menyuruh agar pohon mangga ditebang saja supaya tidak terlalu capek setiap pagi membersihkan halaman yang sampahnya didominasi oleh daun pohon mangga yang berserakan.
Beliau hanya membalas dengan senyum lalu melanjutkan kembali mengumpulkan setiap daun yang berserakan tanpa menghiraukan candaan saya, dalam hati saya bergumam, loh kenapa dengan ibu kos tidak biasanya judes seperti pagi ini, biasanya cukup dengan sapaan singkat maka beliau yang akan banyak mengeluarkan kata-kata dengan nada sejenis.
Saya menjadi negatif thinking, dan membuat saya bertanya kepada diri sendiri, apa saya pernah melakukan kesalahan beberapa hari belakangan ini sehingga membuat beliau kecewa, lama setelah duduk didepan pintu kamar kos sambil menerawang kesalahan apa yang membuat beliau begitu tak acuh.
Daun daun mangga itu sudah terkumpul dan sudah dimasukan kedalam plastik hitam lalu ditaruh dipinggir jalan depang gerbang halaman kos, beberapa menit kemudian akan datang mobil warna kuning dari petugas kebersihan kota yang mengambil setiap plastik dipinggir jalan sepanjang gank wilayah itu.
Saya masih duduk termenung disana, sejurus kemudian beliau tiba tiba hadir dengan secangkir kopi di tangan kanan dengan gelas agak besar, lalu menyapa saya, “eh kenapa, muka kusut begitu kok disimpan” katanya sambil menyeruput kopi panas yang masih terlihat mengeluarkan kukusnya, “ada masalah apa”? lanjutnya, dia mulai terlihat bersahabat keibuannya sudah kembali pagi itu, “ahh, gak ada bu” kataku singkat, “gak mungkin, saya sudah duluan lahir, wajah seperti itu sudah sering saya temukan bahkan saya sendiri tak jarang memakainya” sambil tersenyum beliau memulai candaan pagi itu.
Suasana sudah mulai cair, disana saya curhat atas kegalauan dan mintak pendapat tentang meninggalkan kos yang masih tersisa tinggal enam bulan lagi. Kata-katanya cukup menyentuh, dan menjadi salah satu alasan penguat untuk meninggalkan kos itu. “kamu masih muda, jarang anak muda mau menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang bermanfaat, justru kebanyakan berpoya poya” begitulah kata-kata yang masih terngiang ditelinga saya sampai hari ini.
***
ketika pertama kali menginjakkan kaki ditempat itu, Masih teringat jelas bagaimana keringnya jalan utama masuk ke tempat yang kini menjadi persinggahanku. pohon-pohon masih sangat terlalu kecil untuk meneduhkan panasnya matahari di musim kemarau tiba. rerumputanpun ikut tak menunjukan partisipasinya meramaikan tanah yang kini kami sebut sebagai tanah kampung naga. karena hanya ada naga yang berdiri melilit tiang-tiang beton sepanjang satu setengah meter di halamana depan tempat itu.
di kala malam tiba, suasana seperti tak ada kehidupan yang sesungguhnya. hanya ada bantuan secercah cahaya lilin yang tak pernah saya tak syukuri. Desel yang kami punya hanya di nyalakan saat ada siaran tv yang sangat menarik. Liga championpun tak setiap malam dapat kami tonton, hanya pada pertandingan yang kami anggap memanas baru kemudian kami tergesa-gesa mencari bensin untuk menghidupkan desel. 
Saat itu, saya baru duduk di semester III di salah satu kampus negeri di mataram, (IAIN Mataram) setiap ingin berangkat kuliah harus mandi dengan bekas ikan, karena memang air kamar mandi di alirkan dari sana, syukurnya adalah saya tak pernah merasakan sakit kulit seperti perkiraan para dokter yang ketika kita menggunakan air yang kurang bersih untuk mandi dan lain sebagainya maka kita akan sering terkena penyakit, dalam hati saya membantin dan bersyukur inilah berkah tuhan atas niat ikhlas melakukan perbuatan baik.
Waktu terus berjalan dengan segala cara dan atas tuntunan petua kami, akhirnya satu tahun lebih sudah berlalu, kekeringan yang dulu kami rasakan kini berubah menjadi kesejukan yang luar biasa, rerumputan yang dulu enggan untuk tumbuh, kini tak sedikit para pengembala sapi datang ke tempat kami untuk menyabit, pohon yang dulu hanya sebatas pinggang kini sudah tak mampu tuk saya jumpai daunnya, lampu sudah tak menjadi permasalahan, di setiap sudut area  sudah terpasang dengan tiang sederhana menjulang tinggi.

Air yang dulu dipakai mandi berasal dari kolam ikan, kini sumur bor siap membasahi setiap badan yang berkeringat, bahkan beberapa waktu silam, seorang team survieyor asal jawa mendatangi tempat kami  dan mengambil sampel untuk mengetahui kandungan air yang ada disini, hasilnya sangat mengejutkan bahwa kandungan air yang ada ditempat ini jauh lebih bagus dari produk air gelasan yang beredar di pulau Lombok. 
Masih teringat jelas satu tahun silam, bagaimana keringnya jalan utama, masuk ke tempat yang kini menjadi persinggahanku. pohon-pohon masih sangat terlalu kecil untuk meneduhkan panasnya matahari di musim kemarau tiba. rerumputanpun ikut tak menunjukan partisipasinya meramaikan tanah yang kini kami sebut sebagai tanah kampung naga. karena hanya ada naga yang berdiri melilit tiang beton sepanjang satu setengah meter.
di kala malam tiba, suasana seperti tak ada kehidupan yang sesungguhnya. hanya ada bantuan secercah cahaya lilin yang tak pernah saya tak syukuri. desel yang kami punya hanya di nyalakan saat ada siaran tv yang sangat menarik. Liga championpun tak setiap malam dapat kami tonton, hanya pada pertandingan yang kami anggap memanas baru kemudian kami tergesa-gesa mencari bensin untuk menghidupkan desel. 

Saat itu, saya baru duduk di semester III di salah satu kampus negeri di mataram, (IAIN Mataram) setiap ingin berangkat kuliah harus mandi dengan bekas ikan, karena memang air kamar mandi di alirkan dari sana, syukurnya adalah saya tak pernah merasakan sakit kulit seperti perkiraan para dokter yang ketika kita menggunakan air yang kurang bersih untuk mandi dan lain sebagainya maka kita akan sering terkena penyakit, dalam hati saya membantin dan bersyukur inilah berkah tuhan atas niat ikhlas melakukan perbuatan baik.*

KEAJAIBAN MIMPI

Posted by Unknown
Awal dulu duduk di bangku aliyah, aku punya mimpi bisa pergi ke luar daerah menggunakan kapal, bagi ku itu mimpi yang lumayan berat, melihat ekonomi keluarga ku yang tak begitu meyakinkan dan kemampuan yang ku miliki tak seberapa, bulan demi bulan hingga berlipat menjadi sebuah tahun, mimpi itu semakin tak terbayang karena tidak ada tanda tanda aku bisa menggapainya, setelah baca buku tentang kekuatan mimpi, aku akhirnya kembali merangkul dan memegang erat mimpi itu, mencoba menelusuri bagaimana supaya bisa tercapai.
 hingga di akhir bangku aliyah, aku dapat tawaran beasiswa full S1 dari kepala sekolah utk melanjutkan pendidikan ke salah satu perguruan tinggi terkenal di jogja "UGM", rasanya aku sangat senang, akhirnya mimpi itu segera akan tercapai melebihi dari yang ku impikan, tapi tuhan berkata lain, setelah berkas aku kumpulkan dan lengkapi, di hari H aku dan bersama salah satu kawan cewek ku harus test ternyata guru yang akan membawa kami test pergi ke acara pernikahan salah satu guru pondok ku, sehingga kami tak bisa mengahadiri moment yang sangat berharga itu, dan di nyatakan tidak masuk kategori.
Sekitar satul kilo dari perumahan masyarakat Tanak Beak ke arah barat menuju Bengkel dan sekitar 500 meter dari perumahan masyarakat Tanak Beak Dasan ke arah timur menuju Kantor Desa Tanak Beak. di sinilah jalur yang semua masyarakat sekitar memanggilnya jalur Rawan, bagaimana tidak, sekitar 5 tahun silam, jalur inilah yang sering di gunakan oleh para pencuri maupun perampok untuk membawa hasil curian dan rampokan yang mereka dapatkan. dan di jalur ini pula masyarakat sering di cegat lalu barang-barangnya diambil.
Di jalur inilah bangunan Pesantren Darul Hikmah Didirikan, awalnya banyak masyarakat yang meragukan kelanjutan dari pembangunan pesantren ini, melihat kejadian-kejadian yang pernah di alami oleh sebagian masyarakat sekitar. Tapi karena keyakinan pimpinan pesantren, pembangunan terus dilanjutkan, dengan harapan, kedepannya justru jalur ini menjadi jalur yang aman oleh semua orang karena keberadaan pesantren ini.
Tiga tahun sudah kini jalur itu mulai ramai dan aman, banyak orang yang berlalu lalang hingga larut, sampai kadang jam tiga malam masih ada suara motor yang terdengar melewati jalur tersebut, berbeda dengan sebelum pesantren ini ada, jangankan jam tiga, jam delapan waktu isya’ pun sudah tidak ada satupun terdengar knalpot motor. Apalagi sampai harus jalan kaki.
Dari hari ke hari sudah banyak masyarakat yang datang langsung ke pesantren sekedar bercerita betapa senangnya pesantren ini ada, karena mereka sudah tidak lagi takut dan was was melewati jalur ini hingga jam berapapun.
Selain takut dengan itu, masyarakat yang mem
Sekitar satul kilo dari perumahan masyarakat Tanak Beak ke arah barat menuju Bengkel dan sekitar 500 meter dari perumahan masyarakat Tanak Beak Dasan ke arah timur menuju Kantor Desa Tanak Beak. di sinilah jalur yang semua masyarakat sekitar memanggilnya jalur Rawan, bagaimana tidak, sekitar 5 tahun silam, jalur inilah yang sering di gunakan oleh para pencuri maupun perampok untuk membawa hasil curian dan rampokan yang mereka dapatkan. dan di jalur ini pula masyarakat sering di cegat lalu barang-barangnya diambil.
Di jalur inilah bangunan Pesantren Darul Hikmah Didirikan, awalnya banyak masyarakat yang meragukan kelanjutan dari pembangunan pesantren ini, melihat kejadian-kejadian yang pernah di alami oleh sebagian masyarakat sekitar. Tapi karena keyakinan pimpinan pesantren, pembangunan terus dilanjutkan, dengan harapan, kedepannya justru jalur ini menjadi jalur yang aman oleh semua orang karena keberadaan pesantren ini.
Tiga tahun sudah kini jalur itu mulai ramai dan aman, banyak orang yang berlalu lalang hingga larut, sampai kadang jam tiga malam masih ada suara motor yang terdengar melewati jalur tersebut, berbeda dengan sebelum pesantren ini ada, jangankan jam tiga, jam delapan waktu isya’ pun sudah tidak ada satupun terdengar knalpot motor. Apalagi sampai harus jalan kaki.
Dari hari ke hari sudah banyak masyarakat yang datang langsung ke pesantren sekedar bercerita betapa senangnya pesantren ini ada, karena mereka sudah tidak lagi takut dan was was melewati jalur ini hingga jam berapapun.
Selain takut dengan itu, masyarakat yang mem

AKU DAN KOTA BANDUNG

Posted by Unknown
Hari/tgl : jumat 14-juni 2013
Hari jumat saat setelah menyelesaikan kuliahku tepatnya jam 11 Saya langsung meluncur kembali ke pondok tercinta, di pondok, Saya lihat kumpulan teman teman ku yang di pimpin orang yang selama ini Saya banggakan, mamik Khalil, Saya menyebut mamik karena sudah sepantasnya Beliau memamakai gelar itu, melihat apa yang beliau miliki (ilmu) dan apa yang sudah beliau perbuat untuk pondok ini. Saya ucap salam dan mencium tangannya berjabat, jejeran Koran di depannya menggerakan kan ku untuk ikut membaca berita hari itu, dengan teliti Saya melihat beliau membalikan setiap halaman sambil melingkari setiap nama yang beliau kenal di halaman itu dengan polpen hitam di tangan kanannya, Koran hari jumat tanggal 14 juni di halam 10 dengan topic  besar di atas halaman  itu, NAMA CALON SEMENTARA LEGISLATIF, setelah beberapa menit Saya baru sadar kenapa beliu hanya membolak balikan halaman yang hanya memiliki judul yang sama itu.
Di temani salah satu kawan ku, Mr Ma’un, beliau mencari nama-nama calon legislatif yang menjadi sasaran undangan pada acara pergantian OSDH yang akan kami laksanankan nanti pada tanggal 22 bulan itu, dari nama calon sebanyak itu, beliau hanya melingkari nama nama yang menurutnya dekat dari lokasi untuk di undang. Mr Ma’un yang saat itu di tugaskan untuk menulis ulang ke buku pribadinya dengan cekat menuliskan nama nama yang akan di kirimi surat undangan, lalu pergi meninggalkan kami setelah selesai menuliskan nama nama itu di bukunya untuk membuat surat yang di maksud secepatnya.
Koran yang berceceran kini perlahan bukan menjadi focus perkumpulan pagi menjelang siang itu, galak tawa mulai keluar dari mulutnya seperti perkumpulan yang biasa kami lakukan, selalu ada tawa di sela perkumpulan serius membahas tentang perkembangan pondok. Mata ku menatap arah duduknya berharap ia menyinggung tentang keberangkatanku ke bandung, beliau menatap Saya cemas seolah bisa membaca hati ku, lalu beliau membukanya dengan bertanya,”sudah pernah di kontak dari kantor” dengan halus ia mengutarakan pertanyaan itu, dan dengan hati hati pula saya mencoba mengatur kata kata menjawab pertanyaannya, “ belum mik” sedikit kecewa dan khawtir karena satu hari lagi dari keberangkatan, sedang tiket belum saya lihat, beliau memang pintar membaca hati orang, seolah ia tahu perasaan kawatirku, beliau  mencoba meyakinkan ku dan berkata “ di tunggu aja mungkin nanti jam 3 antum di panggil”. sedikit lega karena ada kepastian walaupun saya tak tahu apakah kata kata itu hanya bertujuan untuk menghibur ku.
Kami masih duduk bersama di depan kantor sederhana bersekatkan bedek, di sela keteganganku, Handphone yang  tersimpan di saku tiba tiba berbunyi, berharap itu dari salah satu staff kantor kemenag yang mamik tadi maksud, satu massage di terima, tanpa saya pedulikan siapa yang mengirimi pesan, saya langsung membaca isinya, dan Alhamdulillah harapan ku benar, kecemasan ku hilang, ia menyuruhku datang mengambil tiket dan surat tugas ke kantornya jam 3 sore nanti. Saya tak membalasnya panjang, sampai salam pun lupa karena kebahagiaan ku membeludak sehingga hanya membalas bilang “Nggih pak”.
Ingin rasanya pergi dari tempat duduk itu, dan bersujud syukur karena ini adalah kepergian pertamaku keluar kota di tambah dengan tidak ada biaya yang harus saya keluarkan. tapi saya tak seceroboh itu, kesenangan itu saya simpan rapat-rapat dalam hati dan tetep bertahan duduk bersamanya.
Jam menunjukan pukul 12 siang itu, suara lantunan ngaji di setiap masjid terdengar dengan indahnya, menyadarkan kami kalau hari itu adalah hari jumat, ia terlihat bergegas dan menyuruh kami bersiap-siap untuk jum’atan. Setelah itu beliau mengucapkan salam lalu pergi meninggalkan kami. Saya langsung masuk kamar dan sujud sukur sambil beberapa kali mengucapkan Alhamdulillah di sana.
Tak terasa azan shalat jumat sudah di komandangkan, saya bangkit dan segera bersiap-siap  untuk memenuhi panggilannya. Dengan pakian sederahana saya siap berangkat jum’atan dan menghidupkan mesin si kuning yang sudah beberapa tahun ini menemani perjalanan ku. Tiba di masjid, saya ambil air wudhu karena tadi tidak sempat ambil air wudhu di pondok takut telat. Setelah urutan wudhu selesai saya lakukan lalu menaiki masjid dan shalat dua rakaat di sana.
Beberapa menit kemudian Khutbah telah selasai di bacakan, salah satu warga yang bertugas hari itupun mengomandangkan iqomah pertanda shalat jumaat akan segera kita mulai. Dengan pakian serba putih Kiyai yang selama ini di percayakan masyarakat untuk memimpinya dengan mantap mengambil posisi di depan makmum sebagai imam. Seperti biasa sebelum ia mulai shalatnya ia tak pernah lupa mengingatkan mamkmumnya untuk merapikan dan merapatkan shafnya.
Jam dinding masjid itu menunjukan jam 01.30 amalan shalat jumat telah selasai kami baca, masjid yang terletak di Dasan, Desa Tanak Beak ini memang memiliki keunikan dalam berjamaah shalat jumat, ia masjid yang paling cepat menyelasiakan jum’atannya disbanding masjid lainnya di Desa. Sepertinya ia bisa membaca keadaan masyarakatnya yang kian hari sudah tidak terlalu senang dengan jumatan yang prosesnya lama seperti halnya masjid masjid besar di kota.
Siang itu entah kenapa nafsu makan saya tidak ada, saya juga tidak tahu kenapa satu minggu belakangan ini badan ku terasa tidak  fit, sehingga tak jarang pak zul kepala sekolah ku yang juga salah satu orang yang saya banggakan di pondok ini mengeledek bilang “ tidak usah tegang naik pesawat tad, naik pesawa itu santai ja tidak lebih seperti naik mobil” Saya hanya merespon dengan Senyuman manis padanya. Saat itu memang wajah saya terlihat sedikit pucat tapi bukan karena saya takut akan naik pesawat walaupun ini adalah pertama kalinya saya akan terbang menyebrangi lautan menggunakant pesaawat.
Matahari perlahan bergeser kearah barat, saya lihat jam di handphoneku sudah menunjukan pukul 02.30 teringat kalau hari ini, saya ada janji dengan salah satu staff yang mengurus keberangkatan ku, dengan cepat saya memecet tombol Handphone dan mencari kontak teman yang akan menjadi fatner saya berangkat ke bandung, Ustad Yusron namanya, lalu mengirimnya pesan dan mengajak beliau ketemu nanti di kantor kemenag NTB. karena saya tidak  pernah bertemu  beliau sebelumnya. Ia hanya memberitahu via handphone kalau keberangkatan kebandung nanti bersama dengannya. Setelah pesan pendek saya kirim, tak  lama kemudian ia membalas dan menyetujui perjanjian itu.
Kurang lebih 30 menit Saya habiskan perjalanan dari pondok ke mataram, di perjalanan Handphone saya berdering satu panggilan masuk, karena saat itu saya berada di lampu merah dan kebetulan sedang menyala merah, dengan segera saya ambil Handphone yang saya letakan di kantong celana sebelah kiri dan melihat ternyata Ustad Yusron. langsung saja saya menekan tombol warna hijau dan mengucapkan salam untuknya “ assalmukum tad, napi?  saya awali percakapan via handphone itu, dengan suara lembut dan sopan ia menjawab salam ku, “walaikumslam, saya udah di kantor ini, antum di mana?” sambil sedikit bergegas karena klakson mobil yang berada di belakang sudah mulai berbunyi “ana di jalan tad bentar lagi nyampe, tunggu aja bentar” kayaknya dia paham kalau dalam perjalanan pasti tidak aman untuk keselamatan jika melanjutkan pembicaraan lewat telpon, lalu ia akhiri percakapan singkat itu dengan mengucap salam dan berpesan agar saya hati hati di jalan.
saya paksakan si kuning berlari lebih cepat lagi, karena takut membuat ia kecewa menunggu lama,  tak samapi 10 menit dari jarak kami ngomong, akhirnya sampai juga di kantor wilayah kemenag NTB tepatnya di utara kantor imigrasi depan sebelah selatan kantor DPRD NTB. Saya beranikan diri memasuki kantor yang cukup mewah itu, dan bertanya di security yang bertugas hari itu, “ assalamualaikum pak, ruang tempat mengurus kepergian ke bandung untuk pengembangan KTSP pondok pesantresn salafiyah di mana ya”? saya melihat ada tanda Tanya di atas kepalanya “maaf pak, kalau yang itu saya tidak tahu, cobak masuk aja ke dalam nanti bertanya di sana”?  
PD saja saya masuk walaupun sebenarnya tidak tahu mau masuk ke ruangan mana, tiba tiba terbesit di kepala kalau teman sekepentingan denganku itu sudah sampai duluan di sana, lagi lagi saya  mencari kontak ustad yusron dan menelponya, “ tad ana udah nyampe kantor ni, antum di mana?”  Suara angin ternyata mendominasi sehingga suaranya agak kabur, beberapa kali saya bilang hallo namun suaranya tetap tak jelas, perlahan suaranya mulai kedengaran, nampaknya tadi ia berjalan kearah bawah karena sebelumnya ia sudah berada di tempat pengambilan surat tugas di lantai 2, “ saya sedang  menuju ke lantai satu ini” antum di mana”? hehe dalam hati saya ketawa, ternyata bukan saya yang menghampiri tapi memang kebetulan saja dia ke lantai satu dan akhirnya bertemu di sana.
“Ustad yusron ya”? saya awali percakapan langsung  untuk pertama kali dengannya  dan saling menjabat tangan, “nggih saya yusron” dia tak bertanya banyak tentang saya saat itu, dalam hati saya bergumam, ooo ini toh namanya ustad yusron, ternyata orangnya sudah lebih berumur dariku, tapi ia tetap sopan dan menghormati saya meski umur kami jauh terpaut, itu lah yang membuat saya juga segan dengannya.
Setelah menaiki beberapa anak tangga, kami berdua akhirnya sampai di ruangan tempat pengambilan surat tugas, salah seorang laki laki yang juga merupakan staff  kantor itu member kami sebuah amplove berisi tiket pulang pergi, dengan ternsenyum saya  mernerima amplove itu, lalu kami pegi meninggalkan ruang ber AC itu dengan tujuan bandung di benak kami. Di sela perjalanan menuju tempat parkir,  kami bercakap cakap sehingaa kami sedikit saling tahu satu sama lain, tak terasa anak tangga yang kami lewati sudah habis kami pijaki tempat parkirpun sudah terlihat di depan mata, saya  tak bisa banyak ngobrol saat itu, dia pun sama, akhirnya kami akhiri pertemuan sore itu, dengan berjabat tangan dan berharap esok kami ketemu di bandara soekarno hatta di Jakarta, karena setelah melihat tiket ku, ternyata jadwal kebarangkatanku berbeda dengan nya, saya  lebih awal satu jam.
Malam terlihat sunyi semua santri sibuk dengan buku yang ada di depannya, sesekali suara kodok menghibur kami dengan suaranya yang menggelitikan telinga, tas ransel warna hitam sudah siap saya  bawa, karena habis pulang dari kantor kanwil tadi sore saya  langsung menyiapkan pakian dan kebutuhan yang harus di bawa, rasanya pingin malam itu cepat cepat tidur supaya perjalanan esok tidak ada kendala soal tenaga, tapi mata ini tetap tak bisa tertutup, masih membayangkan gimana cara menaiki pesawa dan prosedur masuk bandara, karena selama ini saya  hanya tau teori kalau berpergian harus melalui check in, dan menuggu di waiting room setelah mendapat boarding pas di tempat check in.
Malam semakin larut, saya paksakan mata ini terpejam dan melayang ke dunia kapuk, mimpi malam itu tidak saya hiraukan. setelah pukul 04.00 salah seorang teman membangkukan ku dari mimpi yang tak sempat saya ingat itu dan segera menuju kamar kecil.
******
BANDARA INTERNASIONAL LOMBOK (BIL)
15 juni 2013
Jam menunjukan pukul 04.15 pagi, mobil zebra hitam memecah keheningan malam dan meluncur ke arah timur selatan menuju BIL (bandara internasional lombok) pak zul yang saat itu mengendarai mobil terlihat pede sehingga larinya lebih kenceng dari sebelumnya, berbeda dengan kawan sebelah kiriku, pak zun, pagi itu kelihatan sangat capek sehingga tertidur pulas karena tadi malam tidak tidur menjaga pondok di waktu malam (bolis), sekitar 45 menit mobil itu berlari kenceng, akhirnya sampai juga di tujuan.
saya  ambil tas ransel warna hitam bermerkan shicata  itu dan keluar dari mobil yang membawaku dari awal. tubuh ku gerogi selain karena dinginnya malam, ini adalah awal saya  mengikuti prosedur masuk bandara. Saya  masih tetap berdiri di depan gate keberangkatan, saya perhatikan layar TV yang entah apa namanya saya  tidak tahu, yang jelas di sana tempat melihat informasi pesawat yang akan berangkat dan yang akan datang. Sambil menunggu kedatangan pak zul yang katanya mau parkir mobil.
saya lihat dengan teliti dan menemukan informasi pesawat lion Air tujuan Jakarta akan berangkat jam 06.55 dan sudah membuka check in.  jam di handphone menunjukan pukul 5.15 namun pak zul belum kelihatan melangkahkan kakinya, setelah beberapa menit akhirnya dengan baju putih kaos kotak kotak, ia menhampiri ku dengan senyum dan melepas keberangkatan ku. Saya cium tangan dua orang kawan sekaligus guru ku itu dan beliau berpesan “baik-baik di sana, jangan lupa telpon atau kasih kabar kalau sudah sampe Jakarta”.
Pagi itu masih kelihatan gelap, mata saya masih tetap tertuju pada dua guru ku yang melangkah ke arah tempat mobil diparkir lalu perlahan menghilang, setelah mereka  benar benar tidak kelihatan lagi, saya  baru masuk dan check in di dalam bandara.
Setelah check in dan mendapatkan boarding pass, saya  langsung menuju kearah ruang tunggu pesawat, sampai di sana pintunya masih tertutup, belum ada keliatan satu orangpun petugas di sana, dua orang sebaya dengan ku terlihat gelisah di kursi luar waiting room, ku hampiri dan bertanya, “ dari mana bang” dengan logat bimanya ia menjawab “ dari bima bang mau ke Kalimantan tapi transit di Jakarta”  saya  belum menanyakan mau kemana malah ia sudah beri tahu saya  tujuannya, belum sempat saya  bertanya kembali eehh malah ia bertanya lagi, “kalau abang mau kemana” “ saya  mau ke bandung,” sambil tersenyum ke arahnya, setelah beberapa menit ngobrol dengan orang bima itu, seorang laki-laki berbaju putih kelihatan tergesa-gesa menghampiri pintu ruang tunggu nampaknya ia sadar kalau ia telat membukakan kami pintu sehingga membuat para penumpang banyak menunggu di luar ruang tunggu, setelah ia berhasil membuka pintu, ayunan tangan kearah semua penumpang ia lambaikan pertanda kami harus masuk, sebelum saya  duduk manis di kursi ruang tunggu, saya  harus melewati mesin pendeteksi dulu, jangan-jangan ada sesuatu yang membuat bahaya orang banyak dari barang barang yang saya bawa, Alhamdulillah setelah ia menggeledah jaket dan beberapa kantong celana ia kemudian menyuruhku mengambil tas dan mempersilahkan duduk di kursi.
saya pandangi setiap sudut ruangan itu, semua penumpang terlihat sibuk dengan bawaannya, tak ada yang saling memperhatikan kecuali beberapa ibu ibu sedang asyik mengobrol dengan kawan sebayanya, entah apa topik pembahasannya hingga ia tak hiraukan penumpang lain yang berada di samping duduknya dari tadi.
 sudah dua kali pengeras suara terdengar menghimbau agar penumpang segera  memasuki ruang tunggu, namun kawanan ibu ibu tadi tetap tak menghiraukan suasana itu, hingga himbauan terakhir dengan lancarnya sang petugas bandara melalui pengeras suaranya menyuruh kami agar menaiki pesawat, Nampaknya jam sudah menunjukan pukul 06.00 WITA tepat dengan yang ada di tiket ku, dalam hati saya  bersykur, kali ini pesawat Lion Air yang terkenal dengan tradisi delay nya tak berlaku. setelah himbauan tadi semua penumpang terlihat buru buru menuju gerbang masuk menuju pesawat, sambil menyodorkan boarding pass dan di lengkapi dengan kartu identitas (KTP/SIM) kami memasuki tubuh pesawat warna putih yang bertuliskan Lion Air di tubuh sejajar dengan jendela pesawat.

DALAM PESAWAT
Setelah memasukan tas ke dalam bagasi, saya  lihat kembali boarding pass yang dari tadi saya genggam dengan sangat erat, untuk meyakinkan diri kalau kursi yang akan saya  duduki benar dan sesuai dengan yang tertera di kertas kecil warna putih itu, saya perhatikan baik baik di setiap jejeran kursi yang sudah tertata rapi sambil mencari nomor yang pas dengan yang sudah saya  pegang, 7D. nomor ganjil yang memiliki posisi agak depan dari bagian pesawat, membuat saya cepat menemukan nomor yang sebentar lagi akan saya  duduki karena memang saya  memasuki pesawat  melalui depan, sedangkan penumpang yang seatnya di atas 20 memasuki pesawat melauli belakang dan harus turun ke daratan bandara.
Tiga orang pramugari berpakian batik kemerahan terlihat sibuk memeriksa setiap bagasi dan menutupnya jika sudah penuh, penumpang kini sudah duduk rapi di kursinya masing masing tak terkecuali saya , suara besi yang menjadi kepala sabuk pengaman terdengar seperti lantunan lagu acapela yang pernah kami mainkan di pondok bersama tujuh laskar cheng ho[2]. Kepala ku melirik teman di samping yang dari tadi tertidur pulas, berharap ia memberi contoh cara menggunakan sabuk pengaman pesawat itu, sedikitpun saya  tak mendapatkan kemahiran di sana, akhirnya saya  nekat dan mencoba sendiri, saat sabuk itu saya  eratkan perutku terasa sedikit meronta karena terlalu erat, saya  panik tapi tak berani memperlihatkan kepanikan ku, karena malu jadi bahan ketawaan seisi pesawat, saya  tahan sambil mencoba untuk mengendorkan sabuk itu, setelah beberapa cara saya  gunakan akhirnya, perutku kembali terasa normal karena berhasil saya  kendorkan.
Bunyi suara mesin pesawat yang saat itu saya  tumpangi mulai menggaung di telinga, perlahan ia mulai berjalan menyusuri landasan. para pramugari dan pramugara mengambil posisi untuk memberitahu kami cara menggunakan sabuk pengaman dan memakai pelampung jika nanti penerbangan dalam keadaan tidak baik. para penumpang juga di larang menghidupkan Handphone dan alat elektronik lainya karena dapat mengganggu system selama penerbangan.  mereka terlihat kompak dan bersemangat, tak jarang ia mengembangkan mulutnya dan tersenyum manis membuat ia kelihatan sempurna. Sambil pesawat mengambil ancang ancang untuk tinggal landas ia manfaatkan waktu yang sedikit itu untuk breafing kami.
Pesawat itu semakin bertambah kecepatannya, tak lupa pramugari sekali lagi mengingatkan kami agar sabuk pengaman di gunakan, wussssss suara mesin pesawat itu meninggalkan bandara dan terbang, huhhh dalam hati saya  bergumam “jadi begini rasanya naik pesawat, cukup ekstrim dan membuat sedikit tegang”.
********
DI BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA
Setelah sekitar dua jam di atas udara bersama Lion Air, kini pesawat itu mendarat di bandara soekarno hatta, namun dua puluh menit sebelum roda pesawat menyentuh landasan, kami kembali di ingatkan untuk mengenakan sabuk pengaman, karena biasanya saat pesawat landing saat itu pula sabuk pengaman di butuhkan. Dari ketinggian kira-kira seratus kaki terlihat bangunan bertingkat menjulang tinggi mengarah ke angkasa, air laut terlihat tenang dengan warna khasnya, cuaca pagi itu juga sangat mendukung sehingga ibu kota dari udara kelihatan sangat indah.
Roda pesawat kini sudah menyentuh daratan bandara Soekarno Hatta, suara roda pesawat  yang di rem sangat menakutkan sebagian penumpang yang yang belum terbiasa mendarat. Alhamdulillah setelah jarak beberapa meter, suara roda itu tak kedengaran dan pesawat terlihat jinak oleh para pilot handal yang membawa kami saat itu. Perlahan pesawat itu berjalan layaknya mobil yang berlari di jalan raya hingga kami tiba di tempat penuruan penumpang.
Tas ransel yang di dalamnya berisi pakian sudah di pundakku, terlihat penumpang berdesak desakan mengantri tak tahan ingin cepat keluar dari badan pesawat, karena posisi ku lumayan dekat dari pintu keluar membuat ku tak banyak menghabiskan tenaga mengantri keluar. Setelah berhasil keluar dari badan pesawat, saya  ambil handphone di kantong sebelah kananku yang dari dua jam yang lalu saya  switch off atas perintah dan keamanan penerbangan, lalu menghidupkannya kembali, Beberapa sms yang masuk tak saya hiraukan. yang pertama kali saya  lakukan adalah mencari kontak dua teman bima ku yang barusan saja saya  kenal dan mengajak mereka jalan bareng menuju terminal kedatangan penumpang, Karena jujur saja ini adalah kali pertama saya  menginjak kan kaki di Jakarta, jadi semua terlihat awam dan tentunya saya  butuh kawan untuk mengobrol. Saya  tak mikir panjang lagi, saya tekan tombol memanggil setelah nama arief saya  temukan di kontak handphone. Sambil menengok mereka dari jendela atas, Hanphone tetap saya posisikan di telinga sebelah kiri, mereka baru saja keluar dari jebakan antrian panjang keluar pesawat namun panggilan ku tak juga di angkat, ia kelihatan sibuk dengan barang bawaanya hingga tak sempat mengambil Handphone yang entah di mana ia taruh. Saya  paham dengan kondisinya  dan memutuskan untuk  memberanikan diri di mana gerbang yang akan ia tuju. Bermaksud bertemu di sana. Ternyata tuhan tahu bagaimana kami saling membutuhkan sehingga kami di pertemukan di gerbang lantai satu menuju terminal IB.
Ia melambaikan tangan ke arahku, tapi saya  tak membalas dengan hal yang sama hanya membalasnya dengan senyum. dengan logat khas bimanya ia awali percakapan seasion kedua setelah pertemuan pagi di BIL, “ apa abang langsung berangkat ke bandung” ? nampaknya abang adalah panggilan khas kota bima yang sering ia lontarkan ketika menyapa orang yang lebih tua darinya, “tidak saya  mau tunggu teman dulu” kataku sambil berjalan beriringan keluar dengannya, di terminal saya  baru tahu setelah melihat tiket transitnya kalau tujuan aslinya adalah Kalimantan, tapi transit di Jakarta. Belum sempat kami sampai di pintu kedatangan Seorang petugas bandara sambil melambaikan tangannya menginstruksikan penumpang yang transit untuk segera di data sesuai dengan tujuannya. Ia tak memperhatikan orang yang menggunakan sergam merah itu, perhatiannya ternyata cukup focus ke arah ku. Untungnya saya  tahu kalau ia juga salah satu penumpang yang transit di sana, saya ambil tiketnya dan mendafarkan namanya, sambil mengerutkan dahinya petugas itu bertanya “ apa ada barang yang di bagasikan ”? saya  tidak tahu persis jawabannya karena itu bukan tiket milikku, karena ia berada dekat di sampingku dan mendengar pertanyaan yang di lontarkan sepontan saja ia menjawab, “ ia ada” petugas itu  lalu melanjutkan pertanyaan  yang berbeda, “ barang bagasinya mana”? kali ini muka cerianya tiba tiba berubah menjadi expersi yang tak pernah  saya  ingin lihat, wajahnya  tiba tiba merah dan ia kelihatan panic, ternyata bagasinya belum sempat ia ambil, saya  yang di belakangnya berdiri sambil menekan nekan tombol handphone sedang chating dengan kawan ku di Lombok sudah tahu kenapa ia pasang expresi seperti itu, saya  akhirnya mengambil alih pembicaraan dan bertanya, “kalau bagasi yang belum sempat di ambil, ngambilnya di mana mba”? dengan senyum ia menjawab “ mas harus balik lagi ke terminal di mana mas turun dari pesawat”. Waduhhh dalam hati saya  terkejut, bagaimana tidak  jarak terminal tempat saya  turun dengan tempat saya  berdiri  saat ini lumayan jauh, kira kira 500 meter yang di tempuh sekitar 15 menit dengan jalan kaki, saya  sembunyikan keluhan hati itu dan mengajaknya kembali ke terminal yang di maksud.
Langkah kakiku sengaja saya percepat, karena takutnya nanti teman yang saya tunggu malah sudah datang dan pergi meninggalkan ku sendirian. Sampai di terminal ia engos engosan nampaknya ia tidak  biasa jalan secepat saat itu. Tanpa saya pedulikan keadaanya karena yang terpenting adalah barangnya ia temukan dan terenyum kembali, saya beranikan diri mengahadapi salah satu petugas bandara saati itu dan bertanya bagaiamana mengambil bagasi yang tak sempat di ambil ketika turun dari pesawat tadi, dengan sebuah HT di tangannya ia kelihatan sangat sibuk sedang berkomunikasi dengan sejawatnya, sehingga ia tak menggubris pertanyaanku, tanpa putus asa saya ulangi pertanyan yang sama dan sedikit perlembut bahasanya. Akhirnya ia pun tersadar dan mengarahkan kami sampai akhirnya kami menemukan barang itu.
Sudah hampir satu jam kami berkeliaran tanpa tahu arah namun punya tujuan yang jelas, kejadian itu membuat kami perlahan menjadi sangat dekat layaknya sahabat yang sudah lama saling mengenal. Setelah barang itu kini berada ditangannya, Akhirnya tibalah saatnya kami harus berpisah dan hari itu pertemuan pertama sekaligus terakhir kami sampai sekarang.




PEMIKIRAN EKONOMI AL-SYATIBI (W.790 H/1388 M)

Jumat, 22 Maret 2013
Posted by Unknown



Riwayat Hidup
Al-syatibi yang bernama lengkap Abu Ishaq bin Musa bin Muhammad Al-Lakhmi Al-Syatibi merupakan salah seorang cendikiawan Muslim yang belum banyak diketahui latar belakang kehidupannya. Yang jelas, ia berasal dari suku Arab Lakhmi. Nama Al-syatibi dinisbatkan ke daerah asal keluarganya, Syatibah (Xatiba atau Jativa), yang terletak di kawasan Spanyol bagian timur.[1]
Al-Syatibi dibesarkan dan memperolehseluruh pendidikannya di ibu kota kerajaan Nashr, Granada, yang merupakan benteng terakhir umat islam di Spanyol. Masa mudanya bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Muhammad V Al-Ghani Billah yang merupakan masa keemasan umat Islam setempat karena Granada menjadi pusat kegiatan ilmiah dengan berdirinya Universitas Granada.
Suasana ilmiah yang berkembang dengan baik di kota tersebut sangat menguntungkan bagi Al-Syatibi dalam menuntut ilmu serta mengembangkannya di kemudian hari. Dalam meneliti pengembangan intelektualitasnya, tokoh yang bermazhab Maliki ini mendalami berbagai ilmu, baik yang berbentuk ‘ulum al-wasa’il (metode) maupun ‘ulum maqashid (esensi dan hakikat). Al-Syatibi memulai aktifitas ilmiahnya dengan belajar dan mendalami bahasa Arab dari Abu Abdillah Muhammad ibn Fakhkarn Al-Biri, Abu Qasim Muhammad ibn Ahmad Al-Syatibi, dan Abu Ja’far Ahmad Al-Syaqwari. Selanjutnya, ia belajar dan mendalami hadits dari Abu Qasim ibn Bina dan Syamsuddin Al-Tilimsani ilmu kalam dan falsafah dari Abu Ali Mansur Al-Zawawi, ilu usul fiqh dariAbu Abdillah Muhammad ibn Ahmad Al-Miqarri dan Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad Al-Syarif Al-Tilimsani, ilmu sastra dari Abu BakarAl-Qarsyi Al-Hasymi, serta berbagai ilmu lainnya, seperti ilmu melakukan korespondensi untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuannya, seperti mengirim surat kepada seorang sufi, Abu Abdillah ibn Ibad Al-Nafsi Al-Rundi.
Meskipun mempelajari dan mendalami berbagai ilmu,Al-Syatibi lebih berminat untuk mempelajari bahasa Arab dan khususnya, usul fiqh. Ketertarikannya terhadap ilmu usul fiqh karena menurutnya, metodologi dan falsafah fiqih islam merupakan faktor yang sangat menentukan kekuatan dan kelemahan fiqih dalam menanggapi perubahan sosial.[2]
Setelah memperoleh ilmu pengetahuan yang memadai, Al-Syatibi mengembangkan potensi keilmuannya dengan mengajarkan kepada para generasi berikutnya, seperti Abu Yahya ibnAsim, Abu Bakar Al-Qadi dan Abu Abdillah Al-Bayani. Di samping itu, ia juga mewarisi karya karya ilmiah, seperti syarh Jalil ‘ala al-Khulashah fi al-Nahw dan Usul al-Nahw dalam bidang bahasa Arab dan al-Muwafaqat fi Usul al-Syari’ah dan al-I’tisham dalam bidang ushul fiqih. Al-Syatibi wafat pada tanggal 8 Sya’ban 790 H (1388 M).

Konsep Maqhasid al-Syari’ah
Sebagai sumber utama agama Islam,Al-qur’an mengandung berbagai ajaran. Ulama membagi kandungan Al-qur’an dalam tiga bagian besar, yaitu aqidah, akhlak dan syari’ah. Aqidah berkaitan dengan dasar dasar keimanan, akhlaq berkaitan dengan etika dan syari’ah berkaitan dengan aspek hukum yang muncul dari aqwal (perkataan) dan af’al (perbuatan). Kelompok terakhir (syari’ah), dalam sistematika hokum Islam, dibagi dalam dua hal, yakni ibadah (habl min Allah) dan muamalah (habn min al-nas).[3]
Alquran tidak memuat berbagai aturan yang terperinci tentang ibadah dan muamalah. Ia hanya mengandung dasar dasar atau prinsip prinsip bagi berbagai masalah hokum dalam Islam. Bertitik tolak dari dasar atu prinsip ini, Nabi Muhammad saw. Menjelaskan melalui berbagai hadisnya. Kedua sumber inilah (Al-quran dan Hadis Nabi) yang kemudian di jadikan pijakan ulama dalam mengembangkan hokum Islam, terutama di bidang muamalah. Dalam kerangka ini, Al-Syatibi mengemukakan konsep maqashid al-syari’ah.
Secara bahasa, Maqhasid al-Syari’ah terdiri dari dua kata, yakni maqhasid dan al-Syari’ah. Maqashid berarti kesengajaan atu tujuan, sedangkan al-Syari’ah berarti jalan menuju sumber air, dapat pula dikatakan sebagai jalan kea rah sumber pokok kehidupan.[4] Menurut istilah, Al-Syatibi menyatakan,
“Sesungguhnya syari’ah bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatn manusia di dunia dan di akhirat”[5]
Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa tujuan syaru\i;ah menurut Al-Syatibi adalah kemaslahatan umat manusia. Lebih jauh, ia menyatakan bahwa tidak satu pun hukumAllah swt. yang tidak mempunyai tujuan karena hukum yang tidak mempunyai tujuan yang sama dengan membebankan sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan.[6]kemaslahatan, dalam hal ini, diartikannya sebagai segala sesuatu yang menyangkut rezeki manusia, pemenuhan penghidupan manusia, dan perolehan apa apa yang dituntut oleh kualitas-kualitas emosional dan intelektualnya, dalam pengertian yang mutlak .[7]
Kewajiban-kewajiban dalam syari’ah menyangkut perlindungan maqashid al-syari’ah yang ada pada gilirannya bertujuan melindungi kemaslahatan manusia. Al-Syatibi menjelaskan bahwa Syari’ah berurusan dengan perlindungan mashalih, dan dengan cara yang positif, seperti demi menjaga eksistensi mashalih, baik syari’ah mengambil berbagai tindakan untuk menunjang landasan-landasan mashalih; maupun dengan cara preventif, seperti syari’ah mengambil berbagai tindakan untuk melenyapkanunsur apa pun yang secara aktual atau potensial merusak mashalih.[8] 
Pembagian Maqashid al-Syari’ah
Menurut Al-Syatibi, kemaslahatan manusia dapat terealisasi apabila lima unsur pokok kehidupan manusia dapat diwujudkan dan dapat dipelihara, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dalam kerangka ini, ia membagi maqhasid menjadi tiga tingkatan, yaitu dharuriyat, hajiyat, dan tahsiniyat.[9]

Dharuriyat
Jenis maqhasid ini merupakan kemestian dan landasan dalam menegakkan kesejahteraan manusia di dunia dan di akhirat yang mencakup pemeliharaan lima unsur pokok dalam kehidupan manusia, yakni agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Pengabaian terhadap kelima unsur pokok tersebut akan menimbulkan kerusakan dimuka bumi serta kerugian yang nyata di akhirat kelak. Pemeliharaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta dapat dilakukan dengan cara memelihara eksistensi kelima unsur pokok tersebut dlam kehidupan manusia dan melindunginya dari berbagai hal yang dapat merusak. Sebagai contoh, penunaian rukun Islam, pelaksanaan kehidupan manusiawi serta larangan mencuri masing-masing merupakan salah satu bentuk pemeliharaan eksistensi agama dan jiwa serta perlindungan terhadap eksistensi harta.
Hajiyat
Jenis maqashid ini dimaksudkan untuk memudahkan kehidupan, menghilangkan kesulitan dan menjadikan pemeliharaan yang lebih baik terhadap lima unsur pokok kehidupan manusia. Contoh jenis maqhasid ini antara lain mencakup kebolehan untuk melaksanakan akad mudharabah, masaqat, muzara’ah dan bai salam, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya yang bertujuan untuk memudahkan kehidupan atau menghilangkan kesulitan manusia di dunia.
Tahsiniyat
Tujuannya adalah agar manusia dapat melakukan yang terbaik untuk menyempurnakan pemeliharaan lima unsur pokok kehidupan manusia. Ia tidak dimaksudkan untuk menghilangkan atau mengurangi berbagai kesulitan, tetapi hanya bertindak sebagai pelengkap, penerang dan penghias kehidupan manusia. Contoh jenis maqashid ini antara lain mencakup kehalusan dalam berbicara dan bertindak serta pengembangan kualitas produksi dan hasil pekerjaan.

Korelasi Antara Dharuriyat, Hajiyat dan Tahsiniyat
Dari hasil penelaahnya secara lebih mendalam, Al-Syatibi menyimpilkan korelasi antara dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat sebagai berikut.[10]
Maqhasid dharuriyat merupakan dasar dari maqhasid hajiyat dan maqhasid tahsiniyat.
Kerusakan pada maqhasid dharuriyat akan membawa kerusakan pula pada maqhasid hajiyat dan maqhasid tahsiniyat.
Sebaliknya, kerusakan pada maqhasid hajiyat dan maqhasid tahsiniyat tidak dapat merusak maqhasid dharuriyat.
Kerusakan pada maqhasid hajiyat dan maqhasid tahsiniyat yang bersifat absolute terkadang dapat merusak maqhasid dharuriyat.
Pemeliharaan maqhasid hajiyat dan maqhasid tahsiniyat diperlakukan demi pemeliharaan maqhasid dharuriyat secara tepat.

Dengan demikian, apabila dianalisis lebih jauh, dalam usaha mencapai pemeliharaan lima unsur pokok secara sempurna, ketiga tingkat maqhasid tersebut tidak dapat dipisahkan. Tanpaknya, bagi Al-Syatibi, tingkat hajiyat merupakan penyempurnaan tingkat daruriyat, tingkat tahsiniyat merupakan penyempurnaan bagi tingkat hajiyat, sedangkan dharuriyat menjadi pokok hajiyat dan tahsiniyat.
Pengklasifikasian yang dilakukan Al-Syatibi tersebut menunjukkan betapa pentingnya pemiliharaan lima unsur pokok itu dalam kehidupan manusia. Disamping itu, pengklasifikasian tersebut juga mengacu pada pengembangan dan dinamika pemahaman hukum yang diciptakan oleh Allah swt. Dalam rangka mewujudkan kemaslahatan manusia.[11]
Berkenaan dengan hal tersebut, Mustafa Anas Zarqa menjelaskan bahwa tidak berwujudnya aspek dharuriyat dapat merusak kehidupan manusia dunia dan akhirat secara keseluruhan. Pengabaian terhadap aspek hajiyat tidak sampai merusak keberadaan lima unsure pokok, tetapi hanya membawa kesulitanbagi mmanusia sebagai mukhallaf dalam merealisasikannya. Adapun pengabaian terhadap aspek tahsiniyat mengakibatkan upaya pemeliharaan lima unsur pokok tidak sempurna.[12] Lebih jauh, ia menyatakan segala aktivitas atau sesuatu yang bersifat tahsiniyat harus dikesampingkan jika bertentangan dengan maqhasid yang lebih tingggi (dharuriyat dan hajiyat).[13]


Beberapa Pandangan Al-Syatibi di bidang Ekonomi
Objek kepimilikan
Pada dasarnya, Al-Syyatibi mengakui hak milik individu. Namun, ia menolak kepemilikan individu terhadap setiap sumber daya yang dapat menguasai hajat hidup orang banyak. Ia menegaskan bahwa air bukanlah objek kepemilikan dan penggunaan tidak bisa dimiliki oleh siapapun. Dalam hal ini, ia membedakan dua macam air, yaitu: air yang tidak dapat dijadikan senagai objek kepemilikan, seperti air sungai dan oase; dan air yang dapat dijadikan sebagi objek kepemilikan, seperti air yang dibeli atau termasuk bagian dari sebidang tanah meilik individu. Lebih jauh, ia menyatakan, bahwa tidak hak kepemilikan yang dapt diklaim terhadap sungai dikarenakan adanya pembangunan dam.[14]

2.pajak
            Dalam pandangan Al-Syatibi, pemungutan pajak harus dilihat dari sudut pandang maslahah (kepentingan umum). Dengan mengutif para pendahulunya, seperti Al-Gazali dan Ibn Al-Fara’, ia menyatkan bahwa pemiliharaan kepentingan umum secara esensial adalah tanggung jawab masyarakat. Dalam kondisi tidakmam mampu melaksanakn tanggung jawab ini masyarakat bisa mengalihkannya kepada baitul mal serta menyumbangkan sebagian kekayaan merekasendiri untuk tujuan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah dapat mengenakan pajak-pajak baru terhadap rakyat-rakyatnya sekalipun pajak tersebut belum pernah dikenal dalam sejarah Islam.[15]

Wawasan Modern Teori Al-Syatibi
Dari pemaparan konsep maqhasid Al-Syari’ah diatas, terlihat jelas bahwa syari’ah menginginkan setiap individu memperhatikan kesejahteraan mereka. A-Syatibi menggunakan istilah maslahah untuk menggambarkan tujuan syari’ah ini. Dengan kata lain, manusia senantiasa dituntut untuk mencari kemaslahatan aktifitas ekonomi produksi, konsumsi, dan pertukaran yang menyertakan kemaslahatan seperti di definisikan syari’ah harus diikuti sebagai kewajiban agama untuk memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Dengan demikian, seluruh aktivitas ekonomi yang mengandung kemaslahatan bagi umat manusia disebut sebagai kebutuhan atau (needs).[16]
            Pemenuhan kebutuhan dalam pengertian tersebut adalah tujuan aktifitas ekonomi, dan pencarian terhadap tujuan ini adalah kewajiban agama. Dengan kata lain, manusia berkewajiban untuk memecahkan berbagai permasalahan ekonominya. Oleh karen itu, problemmatika ekonomi manusia dan perspektif Islam adalah pemenuhan kebutuhan (fulfillment needs) dengan sumber daya yang tersedia.
            Bila ditelaah dari sudut pandang ilmu menejmen kontemporer, konsep maqhasid Al-Syari’ah mempunyai relevansi yang begitu erat dengan konsep motifasi. Seperti yang telah kita kenal, konsep motivasi lahir seiring dengan munculnya persoalan “mengapa” seseorang berprilaku. Motovasi itu sendiri didefinisikan sebagai seluruh kondisi usaha keras yang timbul dari dalam diri manusia yang digambarkan dengan keinginan, hasrat, dorongan, dan senbagainya.[17]
 Bila dikaitkan dengan konsep maqhasid Al-Syari’ah, jelas bahwa, dalam pandangan Islam, motovasi manusia dalam melakukan aktivitas ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhannya dalam arti memperoleh kemaslahatan  hidup di dunia dan di akhirat.
Kebutuhan yang belum terpenuhi merupakan kunci utama dalam suatu proses motivasi. Seorang individu akan terdorong untuk berprilaku bila terdapat suatu kekurangan dalam dirinya, baik secara psikis maupun psikologis. Mativasi itu sendiri meliputi usaha ketekunan dan tujuan.[18]
            Menuru Maslow, apabila seluruh kebutuhan seseorang belum terpenuhi pada waktu yang bersamaan, pemenuhan kebutuhan yang paling mendasar merupakan hal menjadi prioritas. Dengan kata lain, seorang individu baru akan beralih untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lebih tinggi jika kebutuhan dasarnya telah terpenuhi. Lebih jauh, berdasarkan konsep hierarchy of needs, ia berpendapat bahwa garis hierarkis kebutuhan manusia berdasarkan skala prioritasnya terdiri dari:[19]
Kebutuhan fisiolagi (fisiological needs), mencakup kebutuhan dasar manusia, seperti makan dan minum. Jika belum terpenuhi, kebutuhan dasar ini akan menjadi prioritas manusia dan menyamp ingkan seluruh kebutuhan hidup lainnya.
Kebutuhan keamanan (safety needs), mencakup kebutuhan perlindungan terhadap gangguan fisik dan kesehatan serta krisis ekonomi.
Kebutuhan sosial (social needs), mencakup kebutuhan akan cinta, kasih sayang dan persahabatan. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini akan mempengaruhi kesehatan jiwa seseorang.
Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), mencakup kebutuhan terhadap penghornatan dan pengakuan diri. Pemenuhan  kebutuhan ini akan mempengaruhi rasa percaya diri dan prestise seseorang.
Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization needs), mencakup kebutuhan memberdayakan seluruh potensi dan kemampuan diri. Kebutuhan inimerupakan tingkat kebutuhan yang paling tinggi.

Dalam dunia manajmen kebutuhan-kebutuhan yang dikemukakan oleq maslow tersebut dapat diaplikasikan sebagai berikiut:[20]
Pemenuhan kebutuhan pisiologi antara lain dapat diaplikasikan dalam hal pemberian upah atau gaji yang adil dan lingkungan kerja yang nyaman.
Pemenuhan kebutuhan keamanan antara lain dapat diaplikasikan dalam hal pemberian tunjangan, keamanan kerja dan lingkungan kerja yang aman.
Pemenuhan kebutuhan sosial antara lain dapat diaplikasikan dalam hal dorongan terhadap kerja sama, stabilitas kelompok dan kesempatan berinteraksi sosial.
Pemenuhan kebutuhan akan penghargaan antara lain dapat diaplikasikan dalam hal penghormatan terhadap jenis pekerjaan, signifikansi aktivitas dan pekerjaan dan pengakuan publik terhadap performance yang baik.
Pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri antara lain dapat diaplikasikan dalam hal pilihan dalam berkreatifitas dan pantangan pekerjaan.

Bila ditelaah lebih dalam, berbagai tingkat kebutuhan yang dikemukakan oleh maslow diatas sepenuhnya telah terakomodasi dalam konsep maqhasid A-Syari’ah bahkan, konsep yang telah dikemukakan oleq Al-Syatibi mempunyai keunggulan komparatif yang sangat signifikan, yakni menempatkan agama sebagi faktor utama dalam elemen kebutuhan dasar manusia, satu hal yang luput dari perhatian maslow. Seperti yang telah dimaklumi bersama, agama merupakan fitrah manusia dan menjadi factor penentu dalam mengarahkan kehidupan umat manusia di dunia ini.
Dalam persfektif Islam, berpijak pada doktri keagamaan yang menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan hidup manusia dalam rangka memperolah kemaslahatan di dunia dan di akhirat merupakan bagian dari kewajiban agama, manusia akan termotifasi untuk selalu berkreasi dan bekerja keras. Hal ini, pada akhirnya, tentu akan meningkatkan produktifitas kerja dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.









… PEMIKIRAN EKONOMI AL-MAQRIZI …

Riwayat hidup A-Maqrizi
Nama lengkap Al-Maqrizi adalah Taqiyuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Ali bin Abdul Qadir Al-Husaini. Ia lahir di desaa Barjuwan, Kairo, pada tahun 766 H (1364-1365M). keluarganya berasal dari Maqarizah, sebuah desa yang terletak di kota Ba’labak. Oleh karena itu, ia cenderung dikenal sebagai Al-Maqrizi.
Kondisi ekonomi ayahnya yang lemah menyebabkan pendidikan masa kecil dan remaja Al-Maqrizi berada di bawah tanggungan kakeknya dari pihak ibu, Hanafi ibn Sa’igh, seorang penganut mazhab Hanafi. Al-Maqrizi muda pun tumbuh baedasarkan pendidikan mazhab ini. Setelah kakeknya meninggal dunia pada tahun 786 H (1384 M), Al-MAqrizi beralih kemazhab ke mazhab syafi’i. bahkan, dalam perkembangan, pemikirannya, ia terlihat cenderung menganut mazhab Zhahiri.[21]
Ketika berusia 22 tahun, Al-Maqrizi mulai terlibat dalam berbagi tugas pemerintahan dinasti mamluk. Pada tahun 788 H (1386 M), Al-Maqrizi memulai kiprahnya sebagai pegawai didiwan Al-Insya’, semacam sekretariat Negara. Kemudian, ia diangkat menjadi wakil qhadi pada kantor hakim agung mazhab syafi’I, hatib di masjid jami’ amr dan madrasah Al-sultan Hasan, imam masjid jami Al-Hakim, dan guru hadis dimadrasah di Al-Muayyadah.[22]
Pada tahun 791 H (1389 M), sultan Barkuq mengangkat Al-Maqrizi sebagai muhtasib dikairo. Jabatan tersebut di embannya selama 2 tahun. Pada masa ini Al-Maqrizi mulai banyak bersentuhan dengan berbagai permasalahan pasar, pedagangan, dan mudharabah, sehingga perhatiaanya terpokus pada harga-harga yang berlaku, asal usul uang, dan kaidah-kaidah timbangan.
Pada tahun 811H (1408 M), Al-Maqrizi diangkat sebagai pelaksana administrasi wakaf di Qalanisiyah, sambil bekerja dirumah sakit Annuri, damaskus. Pada tahun yang sama ia menjadi guru hadis dimadrasah kemudian, sultan Al-Malik Al-Mashir faraj bin Barkuk (1399-1412 M) menawarinya jabatan wakil pemerintah dinasti mamluk didamaskus.  Namun, tawaran ini ditolak Al-Maqrizi.[23]
Setelah sekitar 10 tahun menetap didamaskus, Al-Maqrizi kembali ke Kairo. Sejak itu, ia mengundurkan diri sebagai pegawai pemerintahdan menghabiskan waktunya untuk ilmu. Pada tahun 834 H (1430 M), ia bersama keluarganya menunaikan ibadah haji dan bermukim di makkah selama beberapa waktu untuk menuntut ilmu serta mengajarkan hadis dan menulis sejarah.
Lima tahun kemudian, Al-Maqrizi kembali ke kampung halamannya barjuwan, kairo. Disini,ia juga aktif mengajar dan menulis, turutama sejarah Islam, hingga terkenal sebagai seorang sejarawan besar pada abad ke-9 H. Al-Maqrizi meninggal dunia pada tanggal 27 Ramadhan 845 H atau bertepatan dengan 9 februari 1442 M.[24]

Pemikiran ekonomi Al-Maqrizi
Al-Maqrizi berada pada fase kedua dalam sejarah pemikiran ekonomi Islam, sebuah fase yang memulai terlihat tanda-tanda melambatnya berbagai kegiatan intelektualn yang inovatif dalam dunia Islam. Latar belakang kehidupan Al-Maqrizi yang bukan orang sufi atau filosop dan relatiif didominasi oleh aktifitasnya sebagai sejarawan muslim sangat mempengaruhi cara pemikirannya tentang ekonomi. Ia senantiasa melihat setiap persoalan dengan flashback dan mencoba memotret apa adanya mengenai fenomena ekonomi suatu Negara dan mempokuskan perhatiannya pada beberapa hal yang mempengaruhinaik turunnya suatu pemerintahan. Hal ini berarti bahwa pemikiran-pemikiran ekonomi Al-Maqrizi cendrung positif, satu hal yang unik dan menarik pada fase kedua yang notabebe didominasi oleh pemikiran yang normative.
Al-Maqrizi merupakan pemikir ekonomi Islam yang melakukan studi khusus tentang “uang dan inflasi”.[25] Focus perhatian Al-Maqrizi terhadap dua aspek yang dimasa pemerintahan Rasulullah dan Ak-Khulafa Arrasyidun tidak menimbulkan masalah ini, tampaknya, dilatarelakangi oleh semakin banyaknya penyimpangan nilai-nilai Islam, terutama dalam kedua aspek tersebut, yang dilakukan oleh kepala pemerintahan bani Umayyah dan selanjutnya.[26]
konsep uang
            Sebagai seorang sejarawan, Al-Maqrizi mengemukakan beberapa pemikiran tentang uang melalui penelaahan sejarah mata uang yang digunakan oleah umat manusia. Pemikirannya ini meliputi sejarah dan fungsi uang, inflikasi penciptaan mata uang buruk, dan daya bli uang.
Sejarah dan fungsi uang
Bagi Al-Maqrizi, mata uang mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehiduupan umat manusia karena, dengan menggunakan uang, manusia dapat memenuhi kebutuhan hidup serta memperlancar aktivitas kehidupannya. Oleh karena itu, untuk membuktikan validitas premisenya terhadap permasalahan ini, ia mengungkapkan sejarah penggunaan mata uang oleh umat manusia, sejak masa lalu kala hingga masa hidupnya yang berada di bawah pemerintahan dinasti mamluk.
            Menurut Al-Maqrizi, baik pada masa sebelum maupun setelah kedatangan Islam, mata uang digunakan oleh umat manusia untuk menentukan berbagai harga barang dan biaya tenaga kerja. Untuk mencapai tujuan ini, mata uang yang dipakai hanya terdiri dari emas dan perak.[27]
 Dalam sejarah perkembangannya, Al-Maqrizi menguraikan bahwa Bangsa Arab jahiliyah menggunakan dinar emas dan dirham perak sebagai mata uang mereka yang masing-masing diadopsi dari Romawi dan Persia serta mempunyai bobot dua kali lebih berat dimasa Islam.[28] Setelah Islam datang, Rasulullah saw menetapkan berbagai praktik muamalah yang menggunakan kedua mata uang tersebut, bahkan mengaitkannya dengan hokum zakat harta.[29] Penggunaan kedua mata uang ini terus berlanjut tanpa perubahan sedikitpun hingga tahun 18 H ketika Khalifah Umar ibn Al-Khattab menambahkan lafaz-lafaz Islam pada kedua mata uang tersebut.[30]
Perubahanyang sangat signifikan terhadap mata uang ini terjadi pada tahun 76 H. setelah berhasil menciptakan stabilitas politik dan keamanan, khalifah Abdul Malik ibn Marwan melakukan reformasi moneter dengan mencetak dinar dan dirham Islam.[31] Penggunaan kedua mata uang ini terus berlanjut, tanpa perubahan yang berarti, hingga pemerintah Al-Mu’thasim, khalifah terakhir dinasti Abbasyiah.
Dalam pandangan Al-Maqrizi,kekacauan mulai terlihat ketika pengaruh kaum mamluksemakin kuat di kalangan istana,termasuk terhadap kebajikan pencetakan mata uang dirham campuran.[32]pencetakan fulus,mata uang yang tercabut dari tembaga,dimulai pada masa pemerintahaan dinasti ayyubiyah,sultan Muhammad Al-kamil ibn Al-adil Al-ayyubi,yang dimaksudkan sebagai alat tukar terhadap barang-barang yang tidak signifikan dengan rasio 48 fulus untuk setiap dirham-nya.[33]
Pasca pemerintahan sultan Al-kamil,pencetakan mata uang tersebut terus berlanjut hingga pejabat di tingkat provinsi terpengaruh laba yang besar dari aktivitas ini.kebijakan sepihak mulai di terapkan dengan meningkatkan volume pencetakan fulus dan menetapkan rasio 24 fulus per dirham.akibatnya,rakyat menderita kerugian besar karena barang-barang yang dahulu berharga ½ dirham sekarang menjadi 1 dirham.[34]keadaan ini semakin memburuk ketika aktivitas pencetakan fulus meluas pada masa pemerintahan sultan Al-adil kitbugha dan sultan Al-zahir barquq yang mengakibatkan penurunan nilai mata uang dan kelangkaan barang-barang.[35]
Berbagai fakta sejarah tersebut,menurut Al-maqrizi,mengindikasikan bahwa mata uang yang dapat  diterima sebagai standar nilai,baik menurut hokum,logika,maupun tradisi,hanya yang terdiri dari emas dan perak.oleh karena itu,mata uang yang menggunakan bahan selain kedua logam ini tidak layak disebut sebagai mata uang.[36]
Lebih lanjut,ia menyatakan bahwa keberadaan fulus tetap diperlukan sebagai alat tukar terhadap barang-barang yang tidak signifikan dan untuk berbagai biaya kebutuhan rumah tangga sehari-hari.[37]dengan kata lain,penggunaan fulus hanya diizinkan dalam bebagai trnsaksi yang berskla kecil.
Sementara itu,menekankan urgensi penggunaan kembali mata uang yang terdiri emas dan perak,Al-Maqrizi menyadari bahwa uang merupakan satu-satunya faktor yang memengaruhi kenaikan harga-harga.Menurytnya,penggunaan mata uang emas dan perak tidak serta merata menghilangkan inflasi dalam perekonomian karena inflasi juga dapat terjadi akibat faktor alam dan tindakan sewenang-wenang dari penguasa.[38]
Implikasi Penciptaan Mata Uang Buruk
            Al-Maqrizi menyatakan bahwa penciptaan mata uang dengan kualitas yang buruk akan melenyapkan mata uang yang berkualitas baik.[39]hal ini terlihat jelas ketika ia menguraikan situasi moneter pada tahun 569 H. Pada masa pemerintahan sultan salahuddin Al-ayyubi ini,mata uang yang dicetak mempunyai kualitas yang sangat rendah di bandingkan dengan mata uang yang telah ada diperedaran.Dalam menghadapi kenyataan tersebut,masyarakat akan lebih memilih untuk menyimpan mata uang yang berkualitas baik dan meleburnya menjadi perhiasan serta melepaskan mata uang yang berkualitas buruk kedalam peredaran.akibatnya, mata uang lama keluar dari peredaran.
            Menurut Al-maqrizi, hal trsebut juga tidak terlepas dari pengaruh pergantiaan penguas dan dinasti yang masing-masing menerapkan kebijakan yang berbeda dalam pencetakan bentuk serta nilai diham dan dinar. Sebagai contoh,jenis dirham yang telah ada dirubah hanya untuk merefleksikan penguasa pada saat itu. Dalam kasus yang lain,terdapat beberapa perubahan tambahan pada komposisi logam yang membentuk dinar dan dirham.[40] Konsekwensinya,terjadi ketidak seimbangan dalam kehidupan ekonomi ketika persediaan logam bahan mata uang tidak mencukupi untuk memproduksi sejumlah unit mata uang. begitu pula halnya ketika harga emas atau perak mengalami penurunan.[41]
Konsep Daya Beli Uang
            Menurut Al-maqrizi, pencetakan mata uang harus disertai dengan perhatian yang lebih besar dari pemerintah untuk menggunakan mata uang tersebut dalam bisnis selanjutnya. Pengabaiain terhadap hal ini, sehingga terjadi peningkatan yang tidak seimbang dalam pencetakan uang dengan aktifitas produksi dapat menyebabkn daya beli riil uang mengalami penurunan.[42]
            Dalam hal yang demikian,Al-Maqrizi memperingatkan para pedagang agar tidak terpukau dengan peningkatan laba nominal mereka. Menurutnya, mereka akan menyadari hal tersebut ketika membelanjakan sejumlah uang yang lebih besar untuk berbagai macam pengeluaranya. Dengan kata lain, seorang pedagang dapat terlihat memperoleh keuntugan yang lebih besar sebagai seorang produsen. Namun, sebagai seorang konsumen, ia akan menyadari bahwa dirinya tidak memperoleh keuntugan sama sekali.[43]

2. Teori Inflasi
a. Inflasi alamiah
            Inflasi jenis ini disebabkan oleh bebagai faktor alamiah yang tidak bisa dihindari umat mausia. Menurut Al-Maqrizi, ketika suatu bencana alam tejadi, bebagai bahan makanan dan hsil bumi lainnya mengalami gagal panen, sehingga persedian barang-barang tersebut mengalami penurunan yang sangat drastis dan terjadi kelangkaan. Karena sifatnya yang sangat signifikan dalam kehidupan, permintaan terhadap berbagai barang itu mengalami peningkatan. Harga-harga membumbung tinggi jauh melebihi daya beli masyarakat. Hal ini sangat berinflikasi terhadap kenaikan harga berbagai barang dan jasa lainnya. Akibatnya, trnsaksi ekonomi mengalami kemacetan, bahkan berhenti sama sekali, yang pada akhirnya menimbulkan bencana kelaparan, wabah penyakit, dan kematian di kalangan masyarakat. Keadaan yang semakin memburuk tersebut memaksa rakyat untuk menekan pemerintah agar segera memperhatikan keadaan mereka. Untuk menanggulangi bencana itu, pemerintah mengeluarkan sejumlah besar dana yang mengakibtkan perbendaharaan Negara mengalami penurunan drastis karena, disisi lain, pemerintah tidak memperoleh pemasukan yang berarti. Dengan kata lain, pemerintah mengalami defisit angaran dan Negara, baik secara politik, ekonomi, maupun sosial, menjadi tidak stabil yang kemudian menyebabkan keruntuhan sebuah pemerintahan.[44] Sekalipun suatu bencana telah berlalu, kenaikan harga-harga tetap berlangsung. Hal ini merupakan inflikasi dari bencana alam sebelumnya yang mengakibatkan aktivitas ekonomi, terutama disektor produksi mengalami kemacetan. Ketika situasi telah normal, persedian barang-barang yang signifikan, seperti benih padi,tetap tidak beranjak naik, bahkan tetap langka, sedangkan permintaan terhadapnya meningkat tajam. Akibatnya, harga barang-barang ini mengalami kenaikan yang kemudian di ikuti oleh kenaikan harga berbagai jenis barang dan jasa lainnya, termasuk upah dan gaji para pekerja.[45]

b. Imflasi Karena Kesalahan Manusia
1. Korupsi dan Administrasi yang buruk
            Al-Maqrizi menyatakan bahwa pengangkatan para pejabat pemerintah yang berdasarkan pemberian suap, dan bukan kabilitas, akan menempatkan orang-orang yang tidak mempunyai kredibilitas pada berbagai jabatan penting dan terhomat, baik dikalangan legislatife, yudikatif, maupun eksekutif. Mereka rela menggadaikan seluruh harta miliknya sebagai konpensasi untuk meraih jabatan yang diinginkan serta kebutuhan sehari-hari sebagai pejabat. Akibatnya para pejabat pemerintahan tidak lagi bebas dari intervensi dan intik para kroni istana. Mereka tidak hanya mungkin disingkirkan setiap saat tetapi disita kekayaanya,bahkan dieksekusi. Kondisi ini selanjutnya sangat mempengaruhi moral dan efisiensi administrasi sipil dan militer. Ketika berkuas, para pejabat tersebut mulai menyalahgunakan kekuasaan untuk meraih kepentingan pribadi, baik untuk memenuhi kewajiban finansialnya maupun kemewahan hidup. Merka berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara. Merajalelanya ketidakadilan para pejabat tersebut telah membuat kondisi rakyat semakin memprihatinkan, sehingga mereka terpaksa meningggalkan kampung halaman dan pekerjaanya. Akibatnya, terjdi penurunan drastis jumlah penduduk dan tenaga kerja serta hasil-hasil produksi yang sangat berimplikasi terhadap penurunan penerimaan pajak dan pendapatan Negara.[46]

Pajak Yang Berlebihan
Menurut Al-maqrizi, akibat dominasi para pejabat bemental korup dalam suatu pemerintahan, pengeluaran Negara mengalami peningkatan yang sangat drastis. Sebagai konpensasinya, mereka menerapkan sistem perpajekan yang menindas rakyat dengan memberlakukan bebagai pajak baruserta menaikan tingkat pajak yang telah ada. Hal ini sanagat mempengaruhi kondisi para petani yang merupakan kelompok  mayoritas dalam masyarakat. Para pemilik tanah yang ingin selalu berada dalam kesenangan akan melimpahkan beban pajak kepada para petani melalui peningkatan biaya sewa tanah. Karena tertarik dengan hasil pajak yang sanagat menjanjikan, tekanan para pejabat dan pemilik tanah terhadap para petani menjdi lebih besar dan intensif. Frekwensi berbagai pajak untuk pemeliharaan bendungan dan pekerjaan-pekerjaan yang serupa semakin meningkat. Konsekwensinya, biaya-biaya untuk penggarapan tanah, penaburan benih, pemungutan hasil panen, dan sebagainya meningkat. Dengan kata lain, panen padi yang di hasilkan pada kondisi ini membutuhkan biaya yang lebih besar hingga melebihi jangkauan para petani. Kenaikan harga-harga tersebut, terutama benih padi, hamper mustahil mengalami penurunan karena sabagian besar benih padi dimiliki oleh para pejabat yang sangat haus kekayaan akibatnya, para petani kehilangan motivasi untuk bekerja dan memproduksi. Mereka lebih memilih meninggalkan tempat tinggal dan pekerjaanya dari pada selalu hidup dalam penderitaan untuk kemudian menjadi pengembara didaerah-daerah pedalaman. Dengan demikian, terjadi penurunan jumlah tenaga kerja dan peningkatan lahan tidur yang akan sanagat mempengaruhi tingkat hasil produksi padi serta hasil bumi lainya dan pada akhirnya, menimbulkan kelangkaan bahan makanan serta meningkatnya harga-harga.[47]

Peningkatan Sirkulasi Mata Uang Fulus
Keadaan ini, menempatkan fulus sebagai standar nilai bagi sebagian besar barang dan jasa. Kebijakan pencetakan fulus secara besar-besaran, menurut Al-Maqrizi, sangat mempengaruhi penurunan nilai mata uang secara drastic. Akibatnya, uang tidak lagi bernilai dan harga membumbung tinggi. Yang pada gilirannya menimbulkan kelangkaan bahan makanan.[48]

Wawasan Modern Teori Al-Maqrizi
                        Ekonomi modern di barat pada umumnya membagi penyebab inflasi menjadi dua yaitu cos-push inflation dan demand-pull inflation tanpak bahwa Al-Maqrizi lebih memahami apa yang sebenarnya mengakibatkan inflasi karena baik inflasi yang disebabkan oleh sebab-sebab alamiah maupun inflasi karena ulah kesalahan manusia keduanya dapat berbentuk cos-push maupun demand-pull.


Abdul Aziz Dahlah. Suplemen Ensiklopedi Islam. (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 1996). jilid 2.

Muhammad Khalid Mas’ud. Filsafat Hukum Islam: studiFilsafat Hukum Islam: Studi  tentang Hidup dan Pemikiran al-Syatibi. (Bandung: penerbit pustaka,1996), Cet. Ke-1.
Al-Syatibi. al-Muafaqat fi Ushulal-Syari’ah. (Kairo: Musthafa Muhammad), jilid 2.
Asafri Jaya Bakri. Konsep Maqhasid Syari’ah Menurut al-Syatibi. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), Cet. Ke-1

Adiwarman Azar Karim. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer. (Jakarta: Gema Insani Press,2001), Cet.ke-1.

Adiwarman Azwar Karim. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004)


[1] Sekalipun namanya dinisbatkan ke daerah ini, Imam Al-Syatibi tidak dilahirkan di sana. Menurut catatan sejarah, kota Syatibah telah jatuh ketangan Kristen yang mengakibatkan terusirnya seluruh penduduk Muslim dari kota itu sejak tahun 645 H (1247), sekitar satu abad sebelum kelahiran Imam Al-Syatibi, dan sebagian besar diantaranya berhijrah ke Granada. Abdul Aziz Dahlah, et.al.,Suplemen Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve1996), jilid 2, hlm.187.
[2] Muhammad Khalid Mas’ud, Filsafat Hukum Islam: studiFilsafat Hukum Islam: Studi  tentang Hidup dan Pemikiran al-Syatibi, (Bandung: penerbit pustaka,1996), Cet. Ke-1, hlm.111.
[3] Abdul Wahab Khalla, ‘Ilm Usul Fiqh, (Kairo: Dar al-Kuwaitiyah,1968), hlm.32.
[4] Fazlurrahman, Islam, (Bandung: Penerbit Pustaka,1984), hlm.140.
[5] Al-Syatibi, al-Muafaqat fi Ushulal-Syari’ah, (Kairo: Musthafa Muhammad), jilid 2, hlm.3Muhammad), jilid 2, hlm.374
[6] Ibid., Jilid 1, hlm. 150
[7] Ibid., Jilid 2, hlm. 25.
[8] Ibid., hlm. 8.
[9] Ibid.
[10] Ibid., hlm16-17
[11] Asafri Jaya Bakri , Konsep Maqhasid Syari’ah Menurut al-Syatibi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), Cet. Ke-1 hlm.73
[12] Mustafa Anas Zarqa, Islamic Economics: an Approach to Human Welfare, dalam aidit Ghazali dan syed Omar (ed), Reading in the Concept and Methodology of Islamic Economics, (Selangor Darul Ehsan: Pelanduk Publication, 1989), hlm. 35-36.
[13] Ibid., hlm.38.
                                                               [14] Muhammad Khalid Masud, op. cit., hlm.136.                                                              
[15] Ibid., 138-139.
[16] M. Fahim Khan, Shantibi’s Objektives of shari’ah and Some Implication for Consumer Theory, dalam Abul Hasan M. Sadeq dan Aidit Ghazali (ed), Reading in Islamic Thought, hlm. 193.

[17] James H.Donelly, James L. Gibson dan John M. Ivancevich, Fundamentals of Management, (New York: Irwin McGraw-Hill, 1998), hlm.267.
[18] Ibid., hlm. 268.
[19] Ibid., hlm. 270-271.
[20] Ibid., hlm.274.
[21] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Suplemen Ensiklopedi Islam, (akarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve,1999), jilid 2, hlm.42.
[22] Jamaliddin Al-Syayyal, Pengantar Al-Muhaqqiq, dalam Taqiyuddin Ahmad bin Ali Al-Maqrizi, Itti’azh Al-Hunafa bi Akhbar Al-Aimmah Al-Fathimiyyin Al-Khulafa, (Kairo: Lajnah Ihya Al-Turats Al-Islamy,1967), hlm.11-12.
[23] Hammdbin Abdurrahman Al-Janidal, loc.cit.
[24] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, loc. Cit.
[25] M.Nejatullah Siddiqi, Recent Workss on History of Economic Thought in Islam: A Survey, op.cit., hlm. 50.
[26] Adiwarman Azar Karim, Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani Press,2001), Cet.ke-1, hlm. 67.
[27] Al-Maqrizi, Al-Nuqud Al-Qadimah Al-Islamiyah, dalam Al-Abb Al-Insitas Al-Karmali (ed.), Kitab al-Nuqud al-‘Arabiyahwa al-Islamiyah wa ‘Ilm al-Namyat, (Kairo: Maktabah Al-Tsaqafah Al-Diniyah,1986), Cet. Ke-2, hlm. 73.
[28] Ibid., hhlm. 28-30.
[29] Ibid., hlm. 35.
[30] Ibid., hlm. 37-38.
[31] Ibid.,  hlm. 40.
[32] Ibid., hlm. 57.
[33] Al-Maqrizi, Ighatsah Al-Ummah bi Kasyf Al-Ghummah, op.cit., hlm. 68-70.
[34] Ibid., hlm. 70.
[35] Ibid., hlm. 71-72
[36] Ibid., hlm.80.
[37] Al-Maqrizi, al-Nuqud al-Qadimah al-Islamiyah, op.cit., hlm., 76.
[38] Al-Maqrizi, Ighatsah al-Ummah bi Kasyf al-Ghummah, op.cit. hlm.83.
[39] Al-Maqrizi, al-Nuqud al-Qadimah al-Islamiyah, op.cit. hlm.66.
[40] Ibid., hlm. 66-67
[41] Ibid., hlm.67-68.
[42] Aidit Ghazali, Islamic Thinkers on Economic, Administration, dan Transaction, (Kuala Lumpur: Quill Publisher, 1991), Vol. 1, hlm. 159.
[43] Ibid.

[45] Ibid., hlm. 50-51.
[46] Ibid., hlm. 52-53.
[47] Ibid., hlm. 53-54
[48] Ibid., hlm.72
Welcome to My Blog

Popular Post

My Blog List

Footer Widget 1

Texts

Footer Widget 3

Recent Posts

Label

Trending Topic

Download

Blogger Tricks

Blogger Themes

Terbaru

Fakta

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2013 Artikel Mahasiswa -Dark Amaterasu Template -